Uncategorized

World Breastfeeding Week 2017: Bersama Kita Bisa!

wbw2017logo2
“Bersama Kita Bisa” adalah kalimat andalan yang sering saya bawakan dan ucapkan selama saya berorganisasi. Kalimat ini menjadi penyemangat diri sekaligus pemersatu bagi saya dan teman-teman dalam menjalankan tugas dan bekerjasama. Pokoknya jadi andalan banget deh! Lalu siapa sangka kalimat ini menjadi ngepas dengan tema Pekan ASI Sedunia tahun ini? 🙂 Karena ternyata masalah menyusui ini bukan hanya jadi tanggung jawab ibu yang menyusui saja, siapapun itu baik muda atau tua, wanita atau laki-laki, bertanggung jawab dalam memberikan dukungan kepada ibu yang menyusui.

Salah satu pembahasan dalam tema WBW tahun 2017 adalah bagaimana caranya agar dapat tercipta breastfeeding yang sustainable. Terdapat dua kata kunci yaitu sustain dan together. Ditambah terdapat pembahasan mengenai hubungan antara menyusui dan tercapainya SDGs yang dibagi ke dalam 4 area tematik. Pada tulisan ini, bagian pertama dengan kata kunci sustain saya akan membahas mengenai area tematik 1 mengenai gizi, keamanan pangan, dan penurunan kemiskinan serta area tematik 4 yaitu mengenai produktivitas dan pekerjaan ibu. Di bagian kedua akan lebih membahas kata kunci kedua yaitu together.

Area Tematik 1: Menyusui dan Manfaatnya

Manfaat pemberian ASI terutama ASI eksklusif telah digaung-gaungkan sejak lama. Penelitian selama beberapa dekade terakhir telah menunjukkan betapa pentingnya pemberian ASI eksklusif, tidak hanya bagi anak tetapi bagi ibu dan keluarga. Jika dihubungkan dengan SDGs, menyusui memiliki peran yang vital bagi pencapaiannya yang dalam hal ini erat kaitannya dengan status gizi anak, keamanan pangan, dan penurunan kemiskinan.

Air Susu Ibu atau ASI dikenal memiliki kandungan gizi yang lengkap bagi bayi. Makanan lain termasuk susu formula tidak dapat menggantikan kandungan zat gizi di dalamnya. Beberapa kandungan yang terdapat dalam ASI adalah sebagai berikut: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan sel-sel darah putih. Bagi bayi yang berusia 0 hingga 6 bulan, kandungan zat gizi dalam ASI dapat memenuhi kebutuhan sehari namun ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas dibutuhkan makanan tambahan. Sehingga ASI eksklusif atau pemberian ASI saja tanpa makanan atau minuman lain disarankan bagi anak yang baru lahir hingga berusia 6 bulan.

Anak yang diberikan ASI eksklusif akan mendapatkan manfaat secara jangka panjang. Dalam konteks kesehatan, kandungan zat gizi yang lengkap dalam ASI akan membuat status gizi anak tercapai dan mengurangi resiko mengalami malnutrisi atau gizi buruk. Sel-sel darah putih dalam ASI memiliki fungsi proteksi yang melindungi bayi dari penyakit infeksi seperti diare dan penyakit tidak menular di masa depannya. Selain itu, ASI juga bermanfaat bagi perkembangan kognitif anak.

Dalam keadaan yang mengancam, sebagai contoh bagi keluarga yang hidup di wilayah peperangan atau daerah yang tingkat keamanan pangan rendah, menyusui dapat menjadi satu solusi. ASI merupakan makanan yang aman dan selalu ada yang dapat diberikan kepada bayi sehingga dapat mencegah kelaparan.

Berdasarkan aspek ekonomi, pemberian ASI merupakan cara pemberian makan yang tidak membutuhkan banyak pengeluaran. Tentu saja berbeda jika keluarga memutuskan untuk memberikan susu formula. Maka dari itu, dengan memberikan ASI keluarga dapat mengurangi pengeluaran dan berdampak pada penurunan kemiskinan.

Area Tematik 4: Menyusui dan Bekerja

Bicara tentang menyusui dan bekerja, hal ini sudah berhasil mencuri fokus dan perhatian saya semenjak tahun 2015. Kala itu bertepatan dengan WBW 2015 saya membaca sebuah artikel yang membahas tentang hubungan antara Ibu bekerja dan menyusui. Dari sanalah saya mendapatkan insights baru mengenai dunia ASI karena sebelum itu pengetahuan saya sangat minim. Mulailah saya berburu jurnal-jurnal penelitian mengenai topik tersebut hingga saya mendapatkan fakta bahwa memang hubungan kedua hal tersebut sangat erat.

Bekerja, tanpa kita sadari menjadi salah satu faktor ibu berhenti menyusui sebelum tercapainya ASI eksklusif. Sedangkan saya sendiri dan Anda mungkin tahu, betapa pentingnya pemberian ASI eksklusif bagi kesehatan dan masa depan anak seperti yang telah saya bahas di area tematik 1. Betapa menyedihkan ketika fakta menunjukkan cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih berada di angka 55,7% dan bekerja menjadi salah satu faktor yang mendukung ibu untuk berhenti menyusui.

Ibu bekerja yang tidak didukung oleh kebijakan perusahaan akan merasa kesusahan untuk tetap memberikan ASI kepada anaknya. Maka dari itu, perusahaan dan tempat bekerja hendaknya memenuhi tiga persyaratan dukungan pemberian ASI sebagai berikut: 1. Memberikan cuti melahirkan (minimal 3 bulan, jika pengaturan cuti fleksibel lebih baik lagi), 2. Menyediakan ruangan untuk menyusui/memompa ASI, dan 3. Memberikan waktu istirahat yang fleksibel bagi ibu yang ingin menyusui/memompa ASI. Pemerintah Republik Indonesia sendiri telah mengatur program dukungan pemberian ASI melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2013, bahkan pemerintah daerah seperti Kota Yogyakarta telah memiliki Perda mengenai hal tersebut. Kenyataannya dalam survei yang saya lakukan sendiri, walaupun sudah ada tempat kerja yang menerapkan peraturan tersebut, masih banyak tempat kerja yang belum melaksanakannya.

Pada suatu hari saya berkesempatan mendatangi sebuah kantor yang memiliki ruang laktasi dan berbincang dengan beberapa ibu yang bekerja di sana. Dalam perbincangan dengan ibu-ibu muda (iya soalnya mbak-mbak ini masih 20-an) yang bekerja di sana, mereka mengaku sangat bersyukur karena perusahaan sangat mendukung mereka dalam memberikan ASI eksklusif. Yang pertama, perusahaan tersebut memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan tetapi fleksibel pengaturannya (terserah diambil berapa hari sebelum melahirkan, H-1 juga boleh) yang menurut mereka sangat membantu karena ibu yang melahirkan pertama kali butuh penyesuaian dan waktu bonding yang lebih lama maka mereka dapat mengatur waktu cuti sesuai kebutuhan. Kedua, di dalam kantor ini disediakan sebuah ruangan kecil, tidak terlalu luas tetapi tertutup, untuk para ibu yang ingin memompa ASI. Tidak hanya itu, terdapat juga lemari pendingin untuk menyimpan ASI hasil perah. Ketiga, perusahaan ini memiliki SOP tentang pengaturan waktu istirahat yang memberikan fleksibilitas kepada ibu yang bekerja untuk memompa ASI.

Lalu saya bertanya, bagaimana tanggapan dan respon atasan serta rekan kerja selama mereka menyusui.

Kalau atasan alhamdulillah sangat mendukung mbak, kalau lagi meeting terus saya izin buat merah ASI pasti dibolehin. Bahkan waktu dinas ke luar juga saya diizinkan merah ASI malah ditanya ‘kamu bawa sarungnya kan?’ sarung itu maksudnya apron mbak, haha. Kalo temen-temen juga alhamdulillah gak ada yang nyinyir kalau saya istirahat buat mompa ASI, malah pada penasaran gitu nanya-nanya misalnya ‘mbak itu alat apa mbak?’

Ketika saya tanyakan mengenai manfaat apa yang mereka rasakan dari adanya dukungan dari perusahaan untuk menyusui, jawabannya hampir sama dengan hasil penelitian yang pernah saya baca. Menurut mereka, produktivitas dan kinerja dapat meningkat karena: 1. Anak yang diberikan ASI tidak mudah sakit, sehingga mengurangi kemungkinan tidak masuk kerja, 2. mood selalu terjaga karena jika tidak memerah ASI akan mengakibatkan mereka moody. Tentu saja peningkatan produktivitas ibu bekerja ini akan sangat berkontribusi untuk perusahaan.

Sudah seharusnya perusahaan-perusahaan menyadari pentingnya pemenuhan hak-hak bagi pekerjanya, salah satunya dengan mengadakan dukungan pemberian ASI. Semoga semakin berjalannya waktu, semakin bertambah tempat kerja yang menyediakan fasilitas ruangan tertutup bagi ibu menyusui untuk memerah ASI selama bekerja. Sehingga cakupan ASI eksklusif dapat meningkat dan bekerja bukanlah faktor yang menghalangi pencapaiannya.

Apa peran saya?

Setelah paparan di atas, saya berharap pembaca sudah menangkap maksud dari tema WBW tahun ini dan lebih paham bahwa pemberian ASI sangat penting. Lalu kita tanyakan kembali, peran apakah yang dapat kita berikan untuk dapat mensupport ibu-ibu menyusui?

Sebagai masyarakat awam yang boro-boro sudah pernah menyusui, bahkan di antara kita ada yang tidak akan merasakan menyusui dalam hidupnya (ya, pembaca laki-laki maksudnya (:), pernahkah melihat ibu menyusui di tempat umum? Mungkin jarang, karena hingga sekarang masih ada anggapan dan persepsi bahwa menyusui di tempat umum itu memalukan serta dianggap aneh. Padahal, hal itu seharusnya tidak terjadi jika kita bisa menghargai dan memberikan mereka kesempatan untuk menyusui anaknya. Mulai sekarang, saya ingin mengajak para pembaca untuk “normalising breastfeeding” atau mengubah padangan mengenai ibu menyusui di tempat umum.

th6FVJYBYD

Selanjutnya untuk generasi muda, baik perempuan atau laki-laki, saya berharap kita dapat bersama-sama lebih memahami dan menambah pengetahuan kita tentang menyusui. Di masa yang akan datang, saya dan teman-teman perempuan akan menjadi ibu. Maka kita membutuhkan persiapan untuk menjadi ibu yang baik, bukan? Begitu pula dengan teman-teman yang laki-laki, saya harap beberapa tahun lagi dapat menjadi suami yang baik dan siap sedia dalam mendukung istrinya memberikan ASI eksklusif. Semangat menjadi istri dan suami idaman! 🙂

Walaupun dengan langkah dan peran kecil, tetapi jika dilakukan bersama-sama insyaAllah akan memberikan manfaat yang besar demi tercapainya kesejahteraan dan kesehatan yang berkelanjutan di dunia. Bersama kita bisa:)

Sumber foto dan bacaan lainnya: http://worldbreastfeedingweek.org

Advertisements
Standard
Uncategorized

Atrévete a ser diferente

posting-2

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, alih-alih dibingungkan oleh masalah skripsi, saya malah dibuat pusing oleh pertanyaan “What’s next?” (Iya walaupun skripsi juga bikin saya bingung). Galau, begitulah istilahnya. Tetapi saya lebih suka menyebut diri saya dalam dilema, karena semakin saya mencari jawaban semakin banyak pilihan-pilihan yang dihadapkan kepada saya.

So, what’s next?

Lanjut studi, tentunya. Ini telah masuk ke dalam rancangan hidup saya jauh-jauh hari. Jauh-jauh tahun malah. Tetapi masalahnya mau lanjut studi apa, lewat jalan apa, dimana, kapan, pertanyaan-pertanyaan itu kerap nempel di kepala saya. Makanya, ketika jenuh memikirkan skripsi saya malah suka cari-cari jawaban dari pertanyaan tersebut.

Saya mau lanjut studi di Inggris! Secepatnya!

Itu jawaban yang sangat pasti. Saya sudah punya beberapa pilihan universitas, pilihan jalan beasiswa, hingga pilihan course yang akan saya ambil. Apakah setelah itu pertanyaan sudah terjawab? Eh ternyata belum. Beberapa pilihan itu belum bisa saya tentukan secara teguh-dengan-menyebut-nama-Allah. Jadilah saya terombang-ambing di lautan dilema.

Terlebih lagi dengan keinginan saya yang agak menyimpang dari jalur mainstream, membuat saya susah untuk yakin. Apakah jalan yang akan saya ambil aman? Apakah jalan yang akan saya ambil tersebut dapat mengantarkan saya kepada cita-cita? Apakah jalan yang akan saya ambil cocok untuk saya?

Atrévete a ser diferente

Berhubung saya lagi dalam proses belajar Bahasa Spanyol, maka kalimat untuk judul saya buatkan dalam bahasa telenovela tersebut. Terjemahannya, berani untuk berbeda.

Di tengah-tengah kegalauan ini, saya bertemu teman-teman yang luar biasa. Kami menamai forum ini Kongkow Medika (Mungkin cerita tentang Kongkow Medika akan saya bahas di postingan lain). Singkatnya malam itu kami pergi bersama, menemui seseorang untuk berbincang. Kalo ada yang bilang ngopi-ngudud-ngobrol bareng adalah tradisi Indonesia, kami memilih tradisi berbeda dan mengisi malam itu dengan ngeteh-ngobrol bareng (Berani untuk berbeda lah sesuai judul, lagian saya tidak minum kopi).

Bang Sinyo (Giovanni van Empel), adalah orang yang terpilih menjadi teman kami berbincang. Beliau saat ini sedang menjalankan pendidikan profesi setelah sebelumnya telah menyandang gelar MSc dalam bidang Economic Health dari University of York. Kiprahnya selama dulu menjadi mahasiswa S1, sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Tetapi kalau masih penasaran, di google banyak klu yang bertebaran.

Selama beberapa jam pertemuan ini satu hal yang sangat melekat dalam kepala saya. Saya kian yakin bahwa tidak ada salahnya keluar dari jalur mainstream. Menjadi berbeda.

Pengalaman Bang Sinyo sendiri dimana dulu setelah lulus S1, di saat teman-temannya tanpa ragu melanjutkan pendidikan profesi, beliau memilih untuk menundanya. Bekerja sebentar, lalu mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi ke Inggris. Itu pilihannya. Ketika pertanyaan “apakah ini benar jalan yang terbaik untuk saya?” muncul, ingatlah bahwa pilihan kita jika dilandasi dengan niat lillahita’ala dan keinginan baik akan menjadi sesuatu yang baik juga.

Sebagaimana satu nasihat yang selalu saya ingat, didapatkan dari kutipan sebuah buku.

“Dalam menjalani hidup ini, Nak, adakalanya kau akan sampai di jalan yang bercabang atau bersimpang. Bila demikian, jangan ragu-ragu memilih cabang atau simpang yang kelihatannya kurang atau jarang ditempuh orang.”

“Bagaimana kalau nanti kita tersesat?” tanyaku.

“Kalau kita tersesat bukan berarti kita akan hilang dalam perjalanan”, jawab emak. “Maka jangan ragu-ragu mengambil jalan yang tidak umum. Hasilnya bisa cukup memuaskan … contohnya lihat apa yang kau alami sekarang. Setelah orang-orang melihat hasil ini, lama-lama mereka akan mengikuti langkahmu dan jalan ini lalu menjadi jalan orang banyak. Tapi kau tetap yang memulai, yang merintis. Ini berlaku baik dalam arti harfiah maupun secara kiasan.”
― Daoed Joesoef, Emak

Bang Sinyo pun berkata “Jika suatu saat kalian merasa tidak bisa melanjutkan jalan tersebut, tinggal balik, tidak akan ada ruginya”, menurut saya sendiri tentu saja itu dapat dilakukan jika benar-benar jalan tersebut sudah tidak baik bagi kita atau mengancam diri.

Ser tu propio héroe

Adalah membandingkan diri saya dengan orang lain, yang kadang-kadang menjadi sesuatu yang mengguncang hati saya. Kadang saya mencari sosok panutan untuk menguatkan hati dalam menghadapi beberapa masalah, tetapi jarang saya temukan yang benar-benar dapat saya contoh.

Lalu, perbincangan saling bercurah isi hati malam itu menyadarkan saya, jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri. Jika menggantungkan diri kepada orang lain tidak menguatkanmu, mencari sesosok role model tak kunjung temu, maka jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri. Ciptakan dirimu seperti sosok yang ingin kamu jadikan panutan, seandainya itu terjadi maka keteguhan tumbuh dalam setiap langkahmu dan lebih baiknya dapat menginspirasi orang lain.

Cree su pensamiento creativamente

Tepat dua hari sebelum pertemuan di sudut kota malam itu kebetulan sekali saya mendapatkan satu materi dalam acara LKMM Nasional ILMAGI. Di dalam materi ke-3 dengan judul “Rencana Pengembangan Organisasi” yang diberikan oleh Kak Muhyi (Muhyi Nur Fitrahanefi), ada sepotong poin yang menarik perhatian. Bahwa kami diajak untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang kreatif, dari sudut pandang yang lain, dengan menggunakan bagian otak sebelah kanan. Bahwa tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan pemikiran logis. Bahwa terkadang kreativitas perlu diunggulkan dalam mencari solusi. Bagaimana tidak menarik, saat itu kelompok saya diminta untuk memecahkan masalah “Kurangnya Kaderisasi ILMAGI sehingga tidak ada yang mencalonkan diri sebagai Sekjend selanjutnya” dengan prinsip Korek Kuping. Jadilah kami berandai-andai dan menilik dari segala sudut hingga mendapatkan nilai filosofis dari korek kuping untuk memecahkan masalah tersebut (tidak perlu saya jelaskan hasil dari gombalan kelompok saya, karena sangat menggelikan).

Sama seperti materi tersebut, Bang Sinyo juga mengatakan bahwa saat ini kreativitas lebih dibutuhkan dalam pemecahan masalah. Kami pun tanpa ragu mengangguk-angguk sepakat. Lalu apa keunggulan dari Creative Problem Solving (CPS)? Menurut beberapa sumber, CPS ini akan menghasilkan cara memecahkan masalah yang orisinil, baru, dan “tidak biasa”. Sungguh merupakan angin baru yang menjadi hembusan segar bagi Indonesia jika pemuda-pemudinya yang sekarang (dan akan menjadi tombak bangsa kelak) memiliki kreativitas yang bermanfaat bagi negaranya.

gracias, amigos

Terima kasih, teman-teman Kongkow Medika yang sukses merealisasikan Jalan Bermanfaat #1 nya. Semoga dapat berlanjut hingga waktu-waktu selanjutnya.

Standard
Uncategorized

Between Obesity and Modern Lifestyle: Factors and Solutions

Web

By Lala Sri Fadila (Undergraduate Student at School of Health and Nutrition, Universitas Gadjah Mada)

The increasing of average weight of people in some countries is associated with the incidence of obesity (Friedman, 2003). World Health Organization (WHO) defined overweight and obesity as “abnormal or excessive fat accumulation that may impair health”. Obesity can be diagnosed from BMI, someone’s weight in kilograms divided by the square of the height in meters. When the measure of BMI exceeds 25, then it is called overweight. Moreover, if the BMI exceeds 30, people are obese. Therefore, the rising number of overweight and obesity triggered the average weight of people increased.

Obesity and overweight have been major health problems worldwide. Based on data from WHO, since 1980 obesity case increased almost twofold from the previous years. Obesity also has been declared as “the global epidemic” by WHO in 1998 (Caballero, 2007). Statistics from WHO estimated that more than 1.4 billion adults, 20 years old and older, were overweight.

The obese has higher risk to get several chronic diseases, such as type 2 diabetes mellitus and cardiovascular disease (Suastika, 2006). Additionally, because of its close relation with metabolic and cardiovascular disease, obesity and overweight has become leading risks for global deaths (Barness, et al,. 2007). This condition has made obesity as a developing concern worldwide.

Nevertheless, obesity is a preventable disease. Strategies and policies are needed to prevent and overcome obesity. However, before we set the strategies and policies, we need to understand what the determinants for obesity prevalent are.

There are so many factors that can cause obesity. Among them are change of food consumption and change of lifestyle (Roemling and Qaim, 2012). These alterations may happen globally. Modern western lifestyle has a role that influences these changes (Egger and Dixon, 2014). Through globalization, modern western lifestyle entered many countries and then changed people’s behavior. Previously, people were engaged to healthy lifestyle but nowadays they left it to become contemporary society.

Modernization has impact to social, cultural, occupational, environmental and other factors of people’s lifestyle. Based on Egger and Dixon review (2014), the transformation of those factors can affect nutrition, activity, stress level, technology-induced-pathology, and inadequate sleep. It also can influence the relationships and social factors of modern society. Thus, the transformation of lifestyle has bigger effect beyond what we imagine.

Modification of dietary pattern caused the energy intake became higher than the need. The dietary changes included the increase of edible oils and caloric sweeteners using, transition to animal-source food, and decreased consumption of legumes, coarse grains, and other vegetables (Popkin, et al., 2012). Furthermore, a study by Cizza and Rother (2012) suggested that increased intake of fast food and junk food is also contributed to the obesity epidemic.

Fast food and junk food has become popular among modern people. They consume it because of its good taste and it is easy-to-serve. The current society has less time to provide their meals, leading them to consume fast food and junk food. The ingredients have to go through the process, such as deep frying, and added additives into it before become an edible fast food. The food processing of fast food and junk food itself made them to be unhealthy food that contains high calories and rich in fat. Fast food consumption has tight relation with obesity because of its increased calories and fat contents (Anderson, et al., 2011).

Alongside with the consumption of fast food and junk food, the reduced physical activity is considered as the most important factor to obesity (Cizza and Rother, 2012). Poor quality of nutrition made the body get excess energy. The energy should be burned through physical activity. However, if people live a sedentary lifestyle, the energy will remain excess in the body. Weight gain will happen as a result of this condition.

An effective way to prevent obesity means we have to prevent people from live an unhealthy lifestyle. A strategy is needed to avoid people from consume poor nutrition food and reduce their physical activity. The strategy should be focused on environment factors such as social, culture, politics and policy-making which has a big effect to social life. Furthermore, what we have to regard is the strategy must aim at the high risk people.

There are three kinds of prevention: universal prevention, selected prevention, and targeted prevention (WHO, 1998). Universal prevention related to high scale policy that can affect the entire population. It is needed to lower the prevalence and the incidence of obesity entirely. Meanwhile, selected prevention and targeted prevention are addressed to specific people. The targets are people with higher chance to suffer from obesity and also people who already overweight (Suastika, 2006).

Universal prevention can be formed as a policy that regulates fast food price. The government can set the tax through policy in such way hence fast food price will increase. The increasing of fast food price is expected to reduce fast food consumption by people.

The other example is the policy that controls food industry to use any unhealthy materials. The food industry has to reduce sugar, fat and salt usage and consumption in order to produce a healthier food that does not contain high calories and has a slight fat. The food labeling and nutrition fact of food are also needed to give information about the contents of food. This information will guide people to choose their food based on what they need and what is appropriate for them to consume. This policy is expected to guide people to get balance energy and nutrients.

Moreover, the campaigns and education are needed to raising people awareness. This strategy is related to community-based approach. Health promotional campaign should be done to make people aware about healthy food and healthy lifestyle. Awareness is not the only target; community-based action is also can empowering and encouraging society to change their behavior (Krishnan, et.al, 2010)

The proper strategy for the selected and targeted prevention is lifestyle intervention. This action is planned to help individuals to change their daily behavior. This includes giving information to participants about reducing calorie intake and increasing energy expenditure (Suastika, 2006).

To sum up, obesity has been a major health problem and leading death risk worldwide. Obesity occurs because of dietary pattern and lifestyle modification. Thus, to prevent and overcome it, an effective strategy is needed. It can be done through community-based action and individual approach to change people behavior.

References

Anderson, Beth, et al. 2011. Fast-Food Consumption and Obesity Among Michigan Adults. Preventing Chronic Disease: Public Health Research, Practice, and Policy. 2011;8(4):A71

Barness, LA, et al,. 2007. Obesity: Genetic, Molecular, and Enviromental Aspects. Am J Med Genet A. 2007;143A(24):3016-34

Caballero, B. 2007. The Global Epidemic of Obesity: An Overview. Epidemiol Rev. 2007;29:1-5

Cizza,G and Rother, KI. 2012. Beyond Fast Food and Slow Motion: Weighty Contributors to the Obesity Epidemic. J Endocrinol Invest. 2012;35(2):236-242

Egger, Garry and Dixon, John. 2014. Beyond Obesity and Lifestyle: A Review of 21st Century Chronic Disease Determinants. BioMed Research International. 2014:12

Friedman, Jeffrey M. 2003. A War on Obesity, Not the Obese. Science. 2003;299:856

Krishnan, et al,. 2010. Evaluation of Community-based Interventions for Non-communicable Diseases: Experiences from India and Indonesia. Health Promotion International. 2010;26(3):276-289

Popkin, Barry M et al,.2012. Now and Then: The Global Nutrition Transition: The Pandemic of Obesity in Developing Countries. Nutr Rev. 2012;70(1):3-21

Roemling, Cornelia and Qaim, Matin. 2012. Obesity Trends and Determinants in Indonesia. Appetite. 2012;58:1005-1013

Suastika, Ketut. 2006. Update in The Management of Obesity. Acta Med Indonesia-Indonesia J Intern Med. 2006;38(4):231-237

WHO. 1998. Obesity Preventing and Managing the Global Epidemic. Report of a WHO consultation on obesity.

Standard
cerita

Potongan Cerita #2

Aku menulis ketika senang. Aku menulis ketika sedih. Aku menulis ketika dikekang amarah. Aku menulis ketika diselimuti rindu. Seperti saat ini.

Rinduku selalu untukmu, priaku. Hah, seenaknya aku menambahkan partikel ku di belakang nomina itu. Padahal kau tak pernah jadi milikku. Sungguh ironi.

Kamu pria yang hebat. Sangat hebat. Satu-satunya pria yang bisa membuatku membayangkan masa depan, bukan hanya membayangkan namun juga membicarakannya selama berjam-jam. Berbagi tentang apa yang ingin kita lakukan di masa depan. Kalau aku bisa memilih, aku ingin kamu ada di masa depanku.

Kamu pemimpi. Kamu tak cepat puas jika satu mimpimu dapat kau raih. Setelah satu mimpi menjadi kenyataan, belasan bahkan puluhan mimpi lainnya bermunculan, mengantre untuk dapat kau wujudkan. Jikalau aku bisa, aku ingin mendampingimu dalam proses itu.

Kamu humoris. Dengan kalimat bernada innocent dan sederhana tanpa ada unsur paksaan, kau membuat orang tertawa. Kau melucu tanpa harus berusaha melucu. Kau, lengkap dengan wajahmu yang datar ,dapat mendatangkan senyuman kecil orang-orang. Buatlah aku tertawa, setiap hari.

Kamu romantis. For heaven’s sake why did I even mention this? Memangnya darimana aku tahu? Ya aku tahu dari caramu memperlakukan wanita-wanitamu dulu. Kau buat mereka seolah-olah mereka adalah wanita paling beruntung di dunia. Karena memilikimu. Kamu memang tak suka mengumbar kemesraan. Hanya dengan a little gesture and your little smart talk, wanitamu bisa merasa terbang di langit cerah berpelangi diiringi orkestra bernada ceria dengan ketukan yang cepat, secepat denyut jantungnya. Merasakannya? Aku harap aku bisa.

Kamu cerdas. Bagimu tak perlulah menjadi sang penakluk dunia. Asalkan menjadi musafir yang haus akan ilmu pengetahuan, mengembara menghapuskan ketidaktahuan, kau puas. Aku suka.

Sayangnya ini hanyalah sepotong tulisan dan setitik khayalan. Kau hanya hadir di mimpiku tanpa bisa kuwujudkan, priaku.

Standard
sajak

Kembali

Jika gelapnya malam tak bisa menyembunyikan.
Terangnya pagi tak bisa menjelaskan.
Tak perlu kemana-mana kau mencari perlindungan.
Sejauh mana kau pergi, kembali.
Sedekat itulah Dia menghadiri.

Resahnya hati tak perlu kau sampaikan.
Lukanya jiwa tak perlu kau umumkan.
Dalam diam Dia telah menjawab.
Kembalilah padaNya.
Maka Dia bantu enyahkan.

Yogyakarta, 8 Desember 2015

Standard
cerita

Surat untuk Hujan #2

Merah. Warna api yang membara. Warna darah yang mengalir di setiap arteri kita. Warna bunga mawar yang tumbuh dengan indah. Warna yang dapat menarik perhatian.

Selamat malam Hujan, aku kembali menulis surat untukmu. Izinkan aku bercerita lagi tentang Pelangi. Luangkan sedikit waktumu. Kau sungguh-sungguh akan rela membacanya ‘kan?

Hujan, apakah kau tahu warna apa yang pertama kulihat dari Pelangi? Merah. Warna api yang membara. Warna darah yang mengalir di setiap arteri kita. Warna bunga mawar yang tumbuh dengan indah. Warna yang dapat menarik perhatian. Termasuk perhatianku.

Aku kagum, Hujan. Semangat begitu tergambarkan di setiap tindakannya. Dia selalu berjuang, memperjuangkan cita-cita dan tujuannya. Kekuatan dan motivasi itu terlihat jelas pada dirinya membuat semua orang ikut merasakannya.

Hujan, mungkinkah dia api yang selama ini aku tunggu? Yang dapat menghangatkan ketika aku kedinginan. Apakah dia darah yang selama ini aku butuhkan? Yang dapat mengaliri pembuluh semangatku yang mulai mengering. Atau diakah mawar merah yang selama ini aku dambakan? Yang dapat membuat indah perkarangan hati ini yang hanya dipenuhi guguran daun.

Namun, Hujan, sebelum semua pertanyaanku itu terjawab, sayangnya merah Pelangi mulai memudar. Semangat, perjuangan, kekuatan, dan motivasi itu perlahan-lahan hilang. Alasan kekagumanku kepadanya itu menjadi tertutupi awan kekecewaan. Lalu, apakah karena hal ini aku menghilangkan kekagumanku? Tidak, Hujan. Aku akan selalu mengingat merah yang membara waktu itu. Lebih dari itu semua, aku ingin mengembalikan merah itu lagi di dirinya. Hujan, apakah aku mampu?

Aku ingin jadi api itu. Aku ingin jadi darah itu. Aku ingin jadi mawar itu. Aku ingin jadi alasan kembalinya warna merah itu di pancaran jiwanya.

Hujan, kau tahu aku orang yang pesimistik, tapi biarkan aku mencoba satu kali ini. Kau boleh tertawa jika ternyata aku gagal, tetapi jangan kecewa jika aku berhasil 🙂

Doakan aku, Hujan.

Yogyakarta, 3 Oktober 2015

Standard