Kembali

Jika gelapnya malam tak bisa menyembunyikan.
Terangnya pagi tak bisa menjelaskan.
Tak perlu kemana-mana kau mencari perlindungan.
Sejauh mana kau pergi, kembali.
Sedekat itulah Dia menghadiri.

Resahnya hati tak perlu kau sampaikan.
Lukanya jiwa tak perlu kau umumkan.
Dalam diam Dia telah menjawab.
Kembalilah padaNya.
Maka Dia bantu enyahkan.

Yogyakarta, 8 Desember 2015

Advertisements

Salah Salah Salah

Aku mendengar dalam senyap
Aku memandang dalam gelap
Aku memanggil dalam kebisuan
Aku bermimpi dalam sadar
Aku berharap dalam hampa
Aku berjalan dalam lumpuh
Semua yang kulakukan
Terdengar salah
Terlihat salah
Terasa salah
Ku mendamba seseorang yang dapat membetulkan
Namun lebih dari itu ternyata
Yang kubutuhkan adalah
Seseorang yang tidak pernah menyalahkan

Yogyakarta, 9 September 2015
22.56 WIB

Kepada Langit Manakah Aku Harus Tertuju?

amni

Kepada langit manakah aku harus tertuju,

Langit utara -yang cerah dengan lazuardinya- kah?

Dengan semburat jingga menambah sinarnya

Terang. Tenang. Menjanjikan kepastian.

Yang jika aku bernaung kepadanya

Tenteram akan melindungiku

Tidak ada ancaman halilintar, walau sepersekiandetik pun

Terang. Tenang. Menjanjikan kepastian.

Begitulah langit utaraku,

Seakan Ia menawarkan jaminan

“Tak kan kubiarkan setetes air hujan pun membasahimu”

Terang. Tenang. Menjanjikan kepastian.

 

Kepada langit manakah aku harus tertuju,

Langit malam tenggara -yang bertabur bintang- kah?

Dengan benda bulat yang bersinar menambah pesonanya

Gelap. Sepi. Penuh misteri.

Yang selama ini hanya dapat aku dambakan

Namun tak pernah dapat aku jangkau

Hanya pandangan kekaguman yang bisa kutujukan padanya

Gelap. Sepi. Penuh misteri.

Begitulah langit malam tenggaraku

Seakan Ia berkata padaku

“Bermimpilah untuk terbang meraihku”

Kadang membuatku berpikir skeptis. Sinis.

Di saat yang sama membuatku berpikir realistis

Gelap. Sepi. Penuh misteri.

Tapi ini hanyalah sebuah pikiran tentang

Kepada langit manakah aku harus tertuju?