Surat untuk Hujan #2

Merah. Warna api yang membara. Warna darah yang mengalir di setiap arteri kita. Warna bunga mawar yang tumbuh dengan indah. Warna yang dapat menarik perhatian.

Selamat malam Hujan, aku kembali menulis surat untukmu. Izinkan aku bercerita lagi tentang Pelangi. Luangkan sedikit waktumu. Kau sungguh-sungguh akan rela membacanya ‘kan?

Hujan, apakah kau tahu warna apa yang pertama kulihat dari Pelangi? Merah. Warna api yang membara. Warna darah yang mengalir di setiap arteri kita. Warna bunga mawar yang tumbuh dengan indah. Warna yang dapat menarik perhatian. Termasuk perhatianku.

Aku kagum, Hujan. Semangat begitu tergambarkan di setiap tindakannya. Dia selalu berjuang, memperjuangkan cita-cita dan tujuannya. Kekuatan dan motivasi itu terlihat jelas pada dirinya membuat semua orang ikut merasakannya.

Hujan, mungkinkah dia api yang selama ini aku tunggu? Yang dapat menghangatkan ketika aku kedinginan. Apakah dia darah yang selama ini aku butuhkan? Yang dapat mengaliri pembuluh semangatku yang mulai mengering. Atau diakah mawar merah yang selama ini aku dambakan? Yang dapat membuat indah perkarangan hati ini yang hanya dipenuhi guguran daun.

Namun, Hujan, sebelum semua pertanyaanku itu terjawab, sayangnya merah Pelangi mulai memudar. Semangat, perjuangan, kekuatan, dan motivasi itu perlahan-lahan hilang. Alasan kekagumanku kepadanya itu menjadi tertutupi awan kekecewaan. Lalu, apakah karena hal ini aku menghilangkan kekagumanku? Tidak, Hujan. Aku akan selalu mengingat merah yang membara waktu itu. Lebih dari itu semua, aku ingin mengembalikan merah itu lagi di dirinya. Hujan, apakah aku mampu?

Aku ingin jadi api itu. Aku ingin jadi darah itu. Aku ingin jadi mawar itu. Aku ingin jadi alasan kembalinya warna merah itu di pancaran jiwanya.

Hujan, kau tahu aku orang yang pesimistik, tapi biarkan aku mencoba satu kali ini. Kau boleh tertawa jika ternyata aku gagal, tetapi jangan kecewa jika aku berhasil 🙂

Doakan aku, Hujan.

Yogyakarta, 3 Oktober 2015

Aku hari ini…

lals

Kehidupan adalah sebuah siklus dimana seseorang akan selalu tumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya. Kehidupan adalah sebuah perjalanan dimana seseorang akan selalu melangkah menuju masa depan meninggalkan masa lalunya. Kehidupan adalah sebuah pelajaran dimana seseorang akan selalu mengambil hikmah atas kegagalannya dan bersyukur atas keberhasilannya.

Aku hari ini adalah hasil tumbuh dan berkembangnya diriku dari bayi, balita, anak-anak, remaja dan sekarang dewasa. Aku hari ini adalah hasil dari tempaan masa lalu. Kegagalan, ketakutan, dan trauma menguatkanku. Pencapaian dan keberhasilan membentukku. Aku hari ini adalah berkat aku di masa lalu.

Maka, hari ini aku akan berterima kasih kepada beberapa orang yang berperan penting dalam hidupku sejak 20 tahun yang lalu hingga sekarang:

  1. Lala Sri Fadila usia 5 tahun – yang telah menjadi anak kecil yang tumbuh sebagai bocah yang ceria dan tidak takut berkata jujur kepada siapapun, walaupun pada akhirnya setelah umur 5 tahun ini (entah mengapa) Lala kecil berubah menjadi bocah yang pemalu dan pendiam. Yang telah tuntas belajar membaca, menumbuhkan hobi membaca, dan mulai belajar bahasa Inggris sejak usia ini, walaupun sederhana tetapi manfaatnya terasa hingga sekarang.
  2. Lala Sri Fadila usia 10 tahun – yang telah berusaha menjadi anak yang mandiri, tidak takut ketika jauh dari orang tua dalam kesempatan jambore cabang dan jambore daerah (dan hampir jambore nasional) waktu itu. Yang telah dengan senang hati mencoba berbagai macam lomba dari akademik, seni, olahraga, dan agama. Yang telah menumbuhkan mental pantang menyerah walaupun gagal berkali-kali.
  3. Lala Sri Fadila usia 12 tahun – yang telah berani bertindak out of the comfort zone, memutuskan untuk mendaftarkan diri di SMP dalam program tertentu sendirian tanpa teman dari SD yang sama.. Dari sini aku belajar untuk tidak selalu bergantung kepada orang lain.
  4. Lala Sri Fadila usia 14 tahun – yang telah menemukan seseorang yang bernama ‘cinta pertama’, karena dimulai dari dirinya lah aku belajar banyak tentang cinta, kasih sayang, kesabaran, dan kekecewaan. Hingga sekarang.
  5. Lala Sri Fadila usia 17 tahun – yang telah belajar banyak dari masa kanak-kanak dan remaja sampai masuk ke tahap hampir dewasa. Dengan pencapaian terbesarnya, berhasil masuk universitas impian walaupun melewati masa-masa sedih dan lelah.
  6. Teman-teman dan sahabat dari kecil hingga sekarang – mungkin aku adalah teman paling kurang ajar yang ada di dunia, cuek-tidak pedulian-dan terlihat sering melupakan. Tapi kalian harus tahu aku akan berusaha menjadi teman yang baik untuk kalian, walaupun kita jarang bertemu dan jarang menyapa. Ketahuilah bahwa aku pada dasarnya adalah orang yang bebas, tidak suka terikat, maka pahamilah jika aku suka ‘berjalan’ kemana-mana.
  7. Kakak-kakakku – yang meskipun menyebalkan dan suka memanfaatkan si bungsu ini tetapi aku tahu you both are beyond amazing!
  8. Ayahku – yang terkadang mempunyai kecemasan di luar batas kewajaran tetapi aku tahu itu karena Ayah sayang aku. Yang sudah melarangku untuk sekolah di luar kota sebelum kuliah sehingga aku tidak menyesal telah menghabiskan banyak waktu di rumah, untuk selalu berkumpul bertiga dengan Ayah dan Ibu setiap hari di ruang TV ataupun meja makan, saling bercerita. Yang telah mengabulkan banyak, banyak sekali permintaanku, tidak pernah lupa untuk membelikan sesuatu setiap pulang dari luar kota (sejak aku balita hingga aku SMA), membelikan buku-buku yang banyak sebagai alat bantuku belajar, membelikan berbagai benda sebagai sarana untuk aku mengembangkan hobi. Yang telah mengajarkan banyak hal kepadaku, dan salah satunya menunjukkan seperti apa dunia politik itu sebenarnya.
  9. Ibuku – yang selalu berurai air mata di dalam doanya setiap malam, selalu berdoa untuk kebaikan anak-anaknya. Yang sedihnya dan takutnya lebih daripada diriku sendiri ketika aku di masa-masa perjuangan masuk universitas. Yang sedihnya dan takutnya lebih daripada diriku sendiri ketika aku mendapatkan nilai cukup mengecewakan di salah satu mata kuliah. Yang kasih sayangnya tanpa henti untuk anak-anaknya. Yang membentuk karakter dasarku. Yang…tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.

Dan untuk seseorang yang terakhir, yaitu Lala Sri Fadila usia 19 tahun, nikmatilah hari ini sebagai hari terakhirmu di usia belasan. Terima kasih untuk segala pengalaman sejak satu tahun kemarin, banyak sekali pelajaran dari kegagalan yang dapat kuambil. Banyak sekali kejadian yang membangun karakterku untuk selalu berkembang.

Aku hari ini bukanlah siapa-siapa tanpa kalian semua.

Terima kasih.

*dan untuk semua orang yang tidak dapat kusebut satu per satu, terima kasih banyak*

Dear Dave

My dear Dave,

I’ve known you since I was twelve years old. The first moment I saw you were kind of unexpected. It was just another night I spent on watching TV and then you came to sing. Nothing special but I just knew something might happen later.

Dave, what I try to say right now is, I don’t know why, but your songs influence me to hope. Hope for something impossible. I was thirteen years old that time when I heard ‘Crush’. I experienced my very first crush back then and it was similar with ‘Crush’ lyric. I listened to ‘Crush’ everyday, singing a part of it repeatedly,

“Has it ever crossed your mind? When we’re hanging spending time, girl. Are we just friend? Is there more? Is there more?”

I went through, day by day, with a hope inside of me. Someday he will realize, he will realize. Unfortunately, it turned to be nothing. “Am I crazy or falling in love? Is it real or just another crush?” It was not real and just another crush.

When I was down because of broken-heart-things, I listened to ‘A little too not over you’. It just described my feelings in some ways. But, Dave, the thing is someone who broke my heart was not real. I mean, he IS real, but what I thought about him is unreal. I was having illusion, you can call me delusional girl, I had my own imagination then it proved to be unreal and then it just happened, the broken-heart-thing. Maybe I have to revise your title to be ‘A little too not over my own imagination’.

After that, there was a time when I fell in love with a boy, it was real this time. He was sweet and kind, dreamlike type. He was similar with ‘Angel’ in your song.

“Through it all, she offers me protection, lots of love and affection, whether I’m right or wrong”

In love with an ‘Angel’ was amazing after what I’ve been through before. He made me completely in love, but then I realized…. The ‘crush’ and the ‘a little too not over you’ were waiting for me afterward.

After years until now I underwent the same mechanism in my love life. I had ‘crush’ – I broke my heart and I thought I was ‘a little too not over you’ – I met another person, like an ‘angel’ – then back again to the ‘crush’ and so on.

You know, your songs gave me hopes, sometimes made my imagination grew stronger, when it turned down your songs made me think “I’m not over it”, and then it just happened repeatedly.

Dave, don’t be mad, but I think I have to stop. Stop listening to your songs “for purpose”. My hopes grow unsustainably whenever I listen to your songs. I think I should listen to your songs freely without purpose on gaining hopes from now on. Let me stop at ‘A little too not over you’ today, and start over with nothing.

Dave, thank you for your songs. They were sung so beautifully. So beautiful that people can feel the meaning of the song. You have to know, I will grow stronger than ever. I won’t let my imagination rule me. I can stand day by day without hoping.

Sincerely yours,

Your fan girl.