Surat untuk Hujan

Halo Hujan, salam rinduku untukmu. Sudah beberapa saat sejak terakhir kau menyapaku, aku rindu. Aku rindu suasana nyaman dan khidmat ketika kau ada. Kau selalu menenangkan dalam diam. Walau di saat-saat terakhir kita bersama, kedinginan jiwamu membuat aku membeku.
Hujan tenanglah, semenjak kau pergi, aku bahagia. Sesaat setelah kau tinggalkan aku, aku bertemu Pelangi. Maaf, akan kukoreksi, bukan bertemu tapi aku melihat Pelangi. Aku tahu dia selalu ada di sana selama ini, aku hanya tak berkesempatan melihatnya karena kau tutupi dia dengan kehadiranmu. Hujan, dia begitu indah. Kelembutan, keteguhan, kesabaran, semangat, keceriaan, kehangatan, dan sekaligus ketenangan selalu ia pancarkan. Bersatu dengan harmonis mewarnai jiwanya.
Hujan, maafkan aku tapi aku jatuh cinta kepadanya. Bermula dari kekaguman akan warna-warninya, kini aku menaruh hati. Setengah mati aku mencoba menghilangkan rasa ini, habis energi aku mencoba menyangkal semuanya. Hujan, aku terlalu takut untuk jatuh cinta lagi setelah ditinggalkan kamu. Tapi, Hujan, aku terlalu bahagia untuk kalut. Jadi, kuputuskan untuk tetap seperti ini. Menikmati kesendirian ditemani pancaran Pelangi dari jauh. Katakan, Hujan, aku tidak salah ‘kan?
Hujan, aku pernah membencimu karena masa lalu. Tapi ketahuilah, kini aku bersyukur atas kejadian itu. Kalau kau tidak pernah meninggalkanku, aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Terima kasih, Hujan. Kuharap kau tidak pernah kembali.

27 September 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s