Aku hari ini…

lals

Kehidupan adalah sebuah siklus dimana seseorang akan selalu tumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya. Kehidupan adalah sebuah perjalanan dimana seseorang akan selalu melangkah menuju masa depan meninggalkan masa lalunya. Kehidupan adalah sebuah pelajaran dimana seseorang akan selalu mengambil hikmah atas kegagalannya dan bersyukur atas keberhasilannya.

Aku hari ini adalah hasil tumbuh dan berkembangnya diriku dari bayi, balita, anak-anak, remaja dan sekarang dewasa. Aku hari ini adalah hasil dari tempaan masa lalu. Kegagalan, ketakutan, dan trauma menguatkanku. Pencapaian dan keberhasilan membentukku. Aku hari ini adalah berkat aku di masa lalu.

Maka, hari ini aku akan berterima kasih kepada beberapa orang yang berperan penting dalam hidupku sejak 20 tahun yang lalu hingga sekarang:

  1. Lala Sri Fadila usia 5 tahun – yang telah menjadi anak kecil yang tumbuh sebagai bocah yang ceria dan tidak takut berkata jujur kepada siapapun, walaupun pada akhirnya setelah umur 5 tahun ini (entah mengapa) Lala kecil berubah menjadi bocah yang pemalu dan pendiam. Yang telah tuntas belajar membaca, menumbuhkan hobi membaca, dan mulai belajar bahasa Inggris sejak usia ini, walaupun sederhana tetapi manfaatnya terasa hingga sekarang.
  2. Lala Sri Fadila usia 10 tahun – yang telah berusaha menjadi anak yang mandiri, tidak takut ketika jauh dari orang tua dalam kesempatan jambore cabang dan jambore daerah (dan hampir jambore nasional) waktu itu. Yang telah dengan senang hati mencoba berbagai macam lomba dari akademik, seni, olahraga, dan agama. Yang telah menumbuhkan mental pantang menyerah walaupun gagal berkali-kali.
  3. Lala Sri Fadila usia 12 tahun – yang telah berani bertindak out of the comfort zone, memutuskan untuk mendaftarkan diri di SMP dalam program tertentu sendirian tanpa teman dari SD yang sama.. Dari sini aku belajar untuk tidak selalu bergantung kepada orang lain.
  4. Lala Sri Fadila usia 14 tahun – yang telah menemukan seseorang yang bernama ‘cinta pertama’, karena dimulai dari dirinya lah aku belajar banyak tentang cinta, kasih sayang, kesabaran, dan kekecewaan. Hingga sekarang.
  5. Lala Sri Fadila usia 17 tahun – yang telah belajar banyak dari masa kanak-kanak dan remaja sampai masuk ke tahap hampir dewasa. Dengan pencapaian terbesarnya, berhasil masuk universitas impian walaupun melewati masa-masa sedih dan lelah.
  6. Teman-teman dan sahabat dari kecil hingga sekarang – mungkin aku adalah teman paling kurang ajar yang ada di dunia, cuek-tidak pedulian-dan terlihat sering melupakan. Tapi kalian harus tahu aku akan berusaha menjadi teman yang baik untuk kalian, walaupun kita jarang bertemu dan jarang menyapa. Ketahuilah bahwa aku pada dasarnya adalah orang yang bebas, tidak suka terikat, maka pahamilah jika aku suka ‘berjalan’ kemana-mana.
  7. Kakak-kakakku – yang meskipun menyebalkan dan suka memanfaatkan si bungsu ini tetapi aku tahu you both are beyond amazing!
  8. Ayahku – yang terkadang mempunyai kecemasan di luar batas kewajaran tetapi aku tahu itu karena Ayah sayang aku. Yang sudah melarangku untuk sekolah di luar kota sebelum kuliah sehingga aku tidak menyesal telah menghabiskan banyak waktu di rumah, untuk selalu berkumpul bertiga dengan Ayah dan Ibu setiap hari di ruang TV ataupun meja makan, saling bercerita. Yang telah mengabulkan banyak, banyak sekali permintaanku, tidak pernah lupa untuk membelikan sesuatu setiap pulang dari luar kota (sejak aku balita hingga aku SMA), membelikan buku-buku yang banyak sebagai alat bantuku belajar, membelikan berbagai benda sebagai sarana untuk aku mengembangkan hobi. Yang telah mengajarkan banyak hal kepadaku, dan salah satunya menunjukkan seperti apa dunia politik itu sebenarnya.
  9. Ibuku – yang selalu berurai air mata di dalam doanya setiap malam, selalu berdoa untuk kebaikan anak-anaknya. Yang sedihnya dan takutnya lebih daripada diriku sendiri ketika aku di masa-masa perjuangan masuk universitas. Yang sedihnya dan takutnya lebih daripada diriku sendiri ketika aku mendapatkan nilai cukup mengecewakan di salah satu mata kuliah. Yang kasih sayangnya tanpa henti untuk anak-anaknya. Yang membentuk karakter dasarku. Yang…tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.

Dan untuk seseorang yang terakhir, yaitu Lala Sri Fadila usia 19 tahun, nikmatilah hari ini sebagai hari terakhirmu di usia belasan. Terima kasih untuk segala pengalaman sejak satu tahun kemarin, banyak sekali pelajaran dari kegagalan yang dapat kuambil. Banyak sekali kejadian yang membangun karakterku untuk selalu berkembang.

Aku hari ini bukanlah siapa-siapa tanpa kalian semua.

Terima kasih.

*dan untuk semua orang yang tidak dapat kusebut satu per satu, terima kasih banyak*

Mimpi&Cita-cita: Tentukan, Tunjukkan, Raih!

2015419195301

Kita hidup pasti punya tujuan. Penetapan tujuan dapat membantu kita dalam melangkah menuju masa depan. Saya selalu percaya dapat meraih mimpi-mimpi saya dengan cara memproyeksikannya.
Menetapkan tujuan/mimpi harus dilakukan secara berkala. Rumusnya S-M-A-R-T.
S-Specific: artinya tujuan yang kita buat tidak boleh terlalu general harus sespesifik mungkin. Misal, mau kuliah S2, tidak berhenti di sana tapi juga tentukan di univ mana, jurusannya apa, titel yang akan diraih apa.
M-Measurable: artinya tujuan kita harus dapat diukur. Diukur dalam artian kita bisa tahu bahwa tujuan itu sudah kita raih atau belum.
A-Attractive/Attainable: tujuan kita haruslah sebuah hal yang menarik, kalau tidak menarik kenapa harus dijadikan tujuan, betul? Misalkan tujuan kita ingin menjadi mahasiswa yang kuliahnya berjalan dan yang penting lulus. Kurang menarik, ‘kan? Hal tersebut kurang menantang kita untuk meraihnya.
R-Reasonable: Dalam menentukan tujuan tentu saja kita harus realistis. Bukan berarti pesimis, tapi kita harus bisa mengukur kemungkinan mimpi itu dapat kita raih atau tidak. Misalnya seorang mahasiswa gizi seperti saya tidak mungkin bermimpi ingin berkerja sebagai dokter spesialis di Rumah Sakit A. Ga nyambung toh?
T-Time-bound: artinya selain menentukan APA tujuan kita, kita juga harus menentukan KAPAN kira-kira tujuan itu akan tercapai. Makanya saya sarankan untuk membuat poin-poin resolusi dalam jangka waktu tertentu. Bisa untuk 1 tahun, 2 tahun ke depan, 5 tahun, bahkan 20 tahun.
Akhir kata, ketika cita-cita dan mimpi kita sudah kita tuliskan tinggal bagaimana cara kita untuk meraihnya. Selalu semangat dalam menggapai cita-citamu dan selalu ingat untuk berdoa kepada Tuhan YME. Selamat menggapai cita-cita! 🙂

sumber: materi pelatihan Special Management Skill (SMS) SP2KM UGM 19 April 2015

Untitled #1

I used to think that every girl shouldn’t show her weakness if she doesn’t want to get hurt. I used to. Karena beberapa kejadian malah menunjukkan kepadaku yang sebaliknya. Perempuan kuat pun kadang menjadi sasaran untuk disakiti. Kenapa? People know she can handle it. Dia bisa bangkit, seberapa pun sakitnya yang dia rasakan. People doesn’t have to think twice to hurt her. Karena dia selama ini telah menunjukkan kemampuannya untuk bertahan. Namun, perempuan tetaplah perempuan. Sekuat apapun ia menahan, there’s always a limit for everything. Sedih dan kecewa pun dapat ia rasakan jika batas itu sudah terlewatkan. Bedanya adalah strong girl know how to fix herself. Now I’m trying to be one of them.

Persembahan

Persembahan untukmu yang merangkul kami selama satu tahun ini, kakak-kakak 2012

Satu tiang terpancang
Berdiri kokoh tak bergetar
Bagai itulah kebersamaan kita
Kita tidak terkenal, tapi kita saling mengenal
Kita tidak kuat, tapi kita saling menguatkan
Kita tidak hebat jika sendirian, tapi bersama kita menjadi berarti
Satu rumah tak mewah namun nyaman
Bagai itulah Himagika kita
Kecil dan sederhana
Namun menghangatkan
Tempat belajar dan tempat mengabdi serta berkontribusi
Kita tidak pernah iri akan hijaunya rumput tetangga
Karena kita bisa membuat rumput yang lebih hijau lagi
Keluarga tidak akan meninggalkan satu sama lain
Selalu kita buka pintu untuk anggota keluarga baru
Tapi pintu tidak pernah tertutup untuk mereka yang ingin pulang

Disampaikan pada Ignition 2014, momen untuk menghantarkan kakak-kakak pengurus Himagika 2012 dan menyambut adik-adik 2014
Yogyakarta, 30 November 2014

Death with Dignity

Assisted suicide. Bukan lagi sebatas euthanasia tapi sudah berbicara tentang hak asasi manusia tentang setiap orang berhak memilih atas apapun tentang hidupnya (mungkin termasuk matinya). Terdengar “aneh” bagi kita namun di beberapa belahan dunia telah diizinkan (dengan syarat tertentu) dan tentu saja hal ini menjadi bahan perdebatan dalam dunia medis, hukum, maupun agama. (Namun dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang agama, karena tentu saja agama manapun terutama Islam melarang bunuh diri, nyawa atau mati sudah menjadi keputusan Allah SWT)
Vincent Humbert, seorang pemadam kebakaran dari Prancis, merupakan seorang lelaki muda yang hebat, sehat, tangguh, gagah, sesuai dengan pekerjaannya. Siapa yang menyangka ia kehilangan segalanya setelah mengalami satu kecelakaan. Kecelakaan mobil itu membuat ia koma dan terbangun satu tahun kemudian hanya untuk menyadari bahwa ia telah kehilangan kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuhnya, melihat, mendengar, mencium, dan merasakan, dalam artian lain ia tidak bisa apa-apa. Depresi, itulah yang dirasakan Vincent. Kalaupun dia hidup sampai sekarang, tidak ada apapun keuntungan baginya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan jalan assisted suicide atau euthanasia. Baginya lebih baik ia mati dengan keadaan tenang, gembira, tanpa keraguan dan penyesalan daripada tetap hidup tanpa bisa melakukan apapun. Keputusan Vincent tidak dapat dijalankan karena di Prancis assisted suicide adalah hal yang ilegal. Vincent bersama ibunya, Marie, membuat 3 rencana. Rencana A, Vincent menulis surat kepada presiden Chirac untuk mengizinkannya melakukan assisted suicide. Vincent menulis surat itu sendiri, dibantu oleh ibu dan seorang jurnalis (yang juga membantu menulis bukunya) dengan cara menggerakkan ibu jarinya (satu-satunya bagian tubuh yang bisa ia gerakkan) di tangan jurnalis itu lalu kata-katanya dituliskan kembali. Marie sempat mendatangi istana Elysee dan hadir di beberapa stasiun televisi untuk menjelaskan keinginan anaknya, tetapi hasilnya nihil. Vincent tetap tidak diizinkan untuk ‘bunuh diri’. Rencana B adalah Vincent ingin dibawa ke negara yang melegalkan assisted suicide, rencana ini sendiri terdengar tidak feasible sehingga tidak dilakukan. Akhirnya sampailah kepada pilihan terakhir, rencana C. Dr. Chaussoy, dokter klinik dimana Vincent dirawat, melepaskan alat bantu pernapasannya. Sedangkan Marie, ibu Vincent sendiri, setelah mengumumkan kepada media massa bahwa ia sendirilah yang akan melakukan assisted suicide kepada anaknya, menyuntikkan barbiturat ke tubuh Vincent hingga over dosis dan meninggal seperti keinginannya.

“I want them to accept my departure as a very simple thing, very natural,” tulis Vincent di pesan terakhirnya.

Sehari kemudian, Marie ditangkap dan ditahan. Memunculkan dilema dan perdebatan di kalangan politik dan masyarakat Prancis, akankah assisted suicide tetap diilegalkan setelah kasus ini?
Itu terjadi pada 2003. Lalu, sebelas tahun kemudian. Brittany Maynard, 29 tahun wanita asal Amerika Serikat didiagnosis menderita kanker otak. Sel kanker secara aktif menggrogoti otaknya sehingga ia seringkali merasakan sakit di kepala yang luar biasa. Padahal Brittany adalah seorang guru, lulusan University of Columbia yang telah menyelesaikan gelar masternya, dan baru saja menikah satu tahun sebelum ia didiagnosis menderita kanker dan dikatakan hidupnya tinggal 6 bulan. She’s smart, she has a great job, she likes to travel, baru saja membangun keluarga walaupun belum dikaruniai anak. Lalu kanker datang menghancurkan dunianya. Dia sudah menjalani operasi selama dua kali, radioterapi rutin, namun penyakitnya terlihat tidak bisa disembuhkan. Sama seperti Vincent, Brittany depresi. Merasa sakit yang tak kunjung berhenti di tiap hari yang ia jalani. Sama seperti Vincent, Brittany memutuskan untuk ‘death with dignity’, meninggal atas pilihannya sendiri. Dia dan suaminya rela bersusah payah untuk pindah dan menjadi warga Oregon, satu-satunya negara bagian di AS yang mengizinkan assisted suicide. Beberapa syarat untuk assisted suicide dipenuhi oleh Brittany dan ia diizinkan. Brittany membuat beberapa daftar yang ingin ia lakukan sebelum ia meninggal, daftar yang terakhir adalah mengunjungi Grand Canyon bersama keluarganya. Kemarin, Brittany memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, di atas tempat tidur di kamarnya ditemani orang-orang dicintainya. She has a wonderful life but cancer broke it and now she’s dead with a happy heart.
Kasus Brittany juga memunculkan berbagai argumen dari berbagai pihak. Sama dengan Vincent, Brittany memutuskan untuk ‘mati’ karena merasa tak ada gunanya hidup lagi. Mungkin alasan mereka terdengar irasional. Alasan yang dibuat orang yang sedang sakit dan menderita memang akan selalu irasional. Namun apakah salah jika mereka menginginkan untuk mati atas pilihan mereka sendiri? Jika HAM mengizinkan seseorang untuk membuat pilihan atas hidupnya, apakah HAM juga mengizinkan seseorang untuk membuat pilihan atas matinya?

Sila baca:
A letter from Brittany Maynard http://edition.cnn.com/2014/10/07/opinion/maynard-assisted-suicide-cancer-dignity/
A video from Brittany Maynard
Argument arises after the death of Vincent Humbert http://www.theguardian.com/world/2003/oct/27/health.france

Potongan Cerita #1

Pukul 07.00. Di tengah keramaian stasiun besar dan tua Yogyakarta.
Seorang laki-laki dengan senyuman khasnya menghampiriku. Tangannya terangkat dan melambai, membuat lengan kemeja merah marunnya terlipat menuju ketiak. Di pundak kanannya tersampir tali ransel yang menggantung di satu sisi punggungnya. Tersenyum. Aku tidak pernah bisa mengelak suatu respon otomatis setiap bertemu dengannya.
“Maaf telat, kamu udah lama banget nunggu ya? Apa-apaan nih keretanya seneng banget berhenti. Katanya jam 05.00 udah sampai. Eh udah dari jam berapa disini?”
“Ah belum lama kok” bohong. Aku sudah di stasiun ini semenjak pukul 04.50. “Namanya juga kereta ekonomi. Kamu mau ngarepin apa? Bayar lima puluh ribu kok rewel kalo mau enak bayar lebih mahal lah”
“Hehehe. Maklum, ini juga dengan berat hati aku sisihkan uangnya untuk ke Jogja. Udah kangen nih, ajakin main ya sampai aku pulang”
Kalo sama aku kangen tidak? “Dasar. Untung aja tempat nginap nggak bayar, transport nggak bayar. Pengen enaknya doang”
“Haha thanks to you. Udah hubungin temen-temen yang lain belum? Ajak mereka main”
“Sabar, kenapa? Kamu tuh baru aja 5 menit yang lalu sampai disini. Belum mandi, belum makan, udah mikirin main. Huh. Ayo cepet ke mobil, ibu sama ayahku mungkin udah nunggu di rumah. Nih roti, buat makan di jalan. Biar aku aja yang nyetir”
“No no no. Aku aja, makannya nanti aja, gampang. Makasih lho”
“Makan satu dulu nanti di mobil, baru pergi”
“Hmm. Jadi gimana pekerjaanmu?”
“Hectic. As usual. Tapi masih bisa ngalay-ngalay kayak dulu juga kok. How about yours?”
“Jangan ditanya. Rasanya aku pengen resign terus jadi enterpreuner aja. Males banget kerja jadi bawahan orang”
“Namanya juga jadi karyawan swasta di Jakarta. Kayak di film-film gitu nggak sih? Kerjaannya lembur. Meeting. Apalah. Enakan juga kerja di daerah”
“Ya gitu. Mana pulang selalu kena macet. Stress nggak sih? Kayaknya kalo aku jadi petani aku lebih bahagia. Eh ini tunjukin jalannya ya, aku lupa”
“Iya karena petani lebih besar jasanya daripada karyawan swasta. Oke ikutin gps aja sih”
“Menyediakan makanan untuk rakyat Indonesia?”
“Iyalah! Kalo nggak ada makanan rakyat nggak bisa kerja, perekonomian negara hancur, Indonesia bubar”
“Nggak gitu juga sih. Kan…..”
“Stop. Aku tau kamu mau ngomong apa, aku lagi enek dengerin teori ekonomi”
“Hahaha. Kamu berubah. Perasaan dulu kamu selalu mau dengerin apapun yang aku bicarakan”
“Ih ngapain. Kamu tuh berisik. Kerjaannya kalo nggak ngritik, tebar-tebar teori, nggak pernah ngomong yang bergenre fun”
“Emang kamu diapakan aja sih selama 6 bulan ini, kok agak berubah”
“Apanya? Nggak berubah kok. Biasa aja. Itu rumahku yang pagarnya warna hijau”
“Oke. Ini rotinya tinggalin di mobil aja ya? Biar buat nanti-nanti”
“Ya”

“Assalamu’alaikum Bu, Pak”
“Wa’alaikumsalam. Subhanallah kamu makin tinggi saja Nak. Ayo masuk-masuk. Kita sudah tunggu dari subuh lho. Bahkan Nisa sudah keluar rumah dari jam 04.30 ke stasiun”
Duh Ibu.. Jujur banget
“Aduh sepertinya saya merepotkan”
“Ndak, ndak. Kamu kan sudah kenal kami sejak lama. Sudah kami anggap seperti anak sendiri”
“Terima kasih Bu. Ada salam dari orang tua saya. Kalau bisa nanti Ibu dan Bapak ikut Nisa saja ke Jakarta”
“Iya gampanglah itu. Salam kembali untuk orangtuamu. Kapan toh acaranya?”
“Nah, ini saya sekalian bawa undangannya. InsyaAllah bulan depan Pak tanggal 27. Bapak Ibu datang nanti di rumah saya saja, satu minggu di sana saja nggak apa-apa saya malah senang”
“Gimana toh, kalau kami seminggu di sana pasti merepotkan kamu. Ini pernikahan tidak sembarangan lho persiapannya. Oh iya, calon istrimu ayu tenan, Nak. Beruntung kamu”
Ya, kamu beruntung. Aku tersenyum. Dalam hatiku mungkin sedang ada bom yang sedang hitung mundur hingga meledak. Sakit.

Bukit Bintang. Malam terakhir dirinya di Jogja.
“Nis, nggak kedinginan?”
“Nggak kok. I’m fine”
“Kamu tuh jangan sok kuat, kalo kedinginan ini aku pinjemin jaket”
“Udah nggak usah. Sejak kapan kamu peduli banget kayak gini? Oh iya aku lupa, kamu udah hampir nikah ya. Bisa mati kalo kamu tetap cuek kayak dulu”
“Haha apasih. Tapi aku nggak nyangka aja bulan depan udah jadi suami orang”
“That’s your choice”
“Agak terpaksa”
“Lah kok terpaksa? Nikah kok terpaksa?”
“Kamu kan tau aku pacaran sama dia niatnya belum mau nikah. Eh baru satu tahun udah nuntut dinikahin. Aku bisa apa”
“Ya salah siapa jadian sama dia dulu. Yang mau siapa?”
“Wow wow. Sinis banget mbak. Relax, relax. Aku kira dia bisa santai. Eh keluarganya udah terlanjur berharap sama aku. Ya mau nggak mau sih….”
“Kamu jangan merasa terpaksa. Kalo dia tau apa yang kamu omongin sama aku sekarang kamu tahu itu bakal nyakitin dia. Dia pilihan kamu. Kamu pilihan dia. Orangtuanya suka sama kamu. Orangtuamu suka sama dia. That’s the point”
“Mamaku lebih suka kamu”
“….”
“Kata mamaku dia beda sama kamu, Nis”
“Tapi aku bukan pilihanmu. Aku hanya sahabat kamu”
“….”
“Sebenernya aku….”
“Ya?”
“Aku capek”
“Hah? Terus? Mau pulang sekarang?”
“Nggak. Aku capek diam sampai sekarang. 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, aku diam dan nunggu nggak dapat apa-apa”
“….”
“Kata orang aku wanita kuat, tapi aku lemah sama kamu. Kata orang aku pintar, tapi aku bodoh karena berharap sama kamu tanpa dapat apa-apa. Aku nggak sabaran, aku nggak suka nunggu, tapi buatmu aku rela nunggu. Kapanpun. Dimanapun. Walaupun aku sendirian. Kesepian. Dari dulu aku kasih kamu waktu, ide, pikiran, kita berbagi tentang semuanya, tapi nyatanya yang aku harapin nggak sama dengan yang kamu pikirkan. Kamu nggak salah. Cuma aku aja yang bodoh. Gila mungkin. Sebenernya aku tau kamu cuma mau temenan sama aku, sama seperti kamu cuma mau pacaran sama dia, tapi dia beruntung bisa mendapatkanmu sebagai suaminya”
“Aku…”
“Nggak usah dijawab. Diam. Aku nggak tahan dengerin kamu. Lupakan aja yang aku omongin tadi. Terimalah ia apa adanya. Perlakukan dia sebaik-baiknya. Kalo ada masalah, aku tetap available buat dihubungin asal jangan sampai buat istrimu cemburu aja”
“Aku…nggak tau harus ngomong apa. But, thanks. You deserve one who better than me. Kamu baik. Kamu pintar. Kamu keren. Jangan pernah takut kesepian. Temanmu banyak yang berbaris untuk selalu mendukungmu dari belakang. Dan aku berada di barisan terdepan. If I could turn back the time, I like to hear you, about what you tell me tonight. Mungkin ceritanya bakal berbeda”
“Ya if we could….”
“….”
“Udah ah pulang yuk. Ngantuk”
“Tidur disini aja gimana?”
“Dasar gila”
“Hahahahaha”

Kepada Langit Manakah Aku Harus Tertuju?

amni

Kepada langit manakah aku harus tertuju,

Langit utara -yang cerah dengan lazuardinya- kah?

Dengan semburat jingga menambah sinarnya

Terang. Tenang. Menjanjikan kepastian.

Yang jika aku bernaung kepadanya

Tenteram akan melindungiku

Tidak ada ancaman halilintar, walau sepersekiandetik pun

Terang. Tenang. Menjanjikan kepastian.

Begitulah langit utaraku,

Seakan Ia menawarkan jaminan

“Tak kan kubiarkan setetes air hujan pun membasahimu”

Terang. Tenang. Menjanjikan kepastian.

 

Kepada langit manakah aku harus tertuju,

Langit malam tenggara -yang bertabur bintang- kah?

Dengan benda bulat yang bersinar menambah pesonanya

Gelap. Sepi. Penuh misteri.

Yang selama ini hanya dapat aku dambakan

Namun tak pernah dapat aku jangkau

Hanya pandangan kekaguman yang bisa kutujukan padanya

Gelap. Sepi. Penuh misteri.

Begitulah langit malam tenggaraku

Seakan Ia berkata padaku

“Bermimpilah untuk terbang meraihku”

Kadang membuatku berpikir skeptis. Sinis.

Di saat yang sama membuatku berpikir realistis

Gelap. Sepi. Penuh misteri.

Tapi ini hanyalah sebuah pikiran tentang

Kepada langit manakah aku harus tertuju?