The art of being a woman: Education or family first?

Semua berawal ketika saya merampungkan tugas ospek saya berupa Life Plan dan satu-satunya komentar Ibu saya setelah melihatnya adalah “Kamu mau menikah umur 27 tahun? Terlalu lama, Dek!”

Saya memang menuliskan di Life Plan tersebut target untuk menikah adalah pada umur 27 tahun, setelah saya selesaikan pendidikan profesi sekaligus mendapatkan gelar S2. Namun inilah yang menjadi masalahnya. Saya wanita, dan apakah saya harus mengorbankan usia saya demi pendidikan dan menikah di usia yang tergolong ‘tidak muda lagi’ bagi wanita itu? It’s the art of being a woman.

Pentingnya Pendidikan

Sejatinya, pendidikan itu penting. Orang tua saya lah yang memotivasi saya untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Mungkin di saat orang tua orang lain berkata “Sudahlah, kamu kan wanita, kuliah S1 saja cukup”, Ibu saya malah bilang “Dek, sekolah lah setinggi-tingginya. Ayah dan Ibu yang dulu dalam kondisi kekurangan saja bisa mencapai S2 dan S1 masa kamu nggak”.

Saya pernah diceritakan oleh salah seorang Dosen saya tentang pemikiran orang tua zaman dulu. Mereka cenderung lebih bangga jika anaknya dapat bekerja dengan cepat daripada mengenyam pendidikan tinggi. Namun seiring berjalannya waktu, pandangan masyarakat berubah. Pendidikan menjadi substansi yang sangat penting sehingga para orang tua bekerja keras agar anaknya bisa sekolah, bukan sekadar ‘mencari sesuap nasi’ lagi.

“Saya salut kepada orang tua Anda semua yang mau dan sanggup menyekolahkan anaknya jauh-jauh sampai ke Yogya, itu membuktikan bahwa orang tua Anda berpikiran ke depan, tidak lagi seperti orang dulu” tambah beliau.

Saya rasa dengan pendidikanlah seseorang patut dihargai. Semakin lama orang dididik maka pikirannya pun semakin dilatih untuk menjadi semakin baik. Tentu pemikiran seorang lulusan sekolah dasar dengan sarjana berbeda. Dalam mengambil keputusan. Dalam menyikapi masalah.

Pendidikan dan Wanita

Apakah wanita perlu mendapatkan pendidikan tinggi? Menurut saya, iya. Sejak perjuangan ibu Kartini dulu hingga sekarang seharusnya wanita bersyukur bisa mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki. Saya rasa perjuangan ibu Kartini bukan emosi semata namun memang memperjuangkan kebutuhan wanita.

‘Sudahlah, kan pada akhirnya wanita baliknya ke dapur juga’

Bukannya saya tidak suka dengan wanita yang memilih (ataupun terpaksa) menjadi ibu rumah tangga, menurut saya itu salah satu profesi juga, namun apakah karena wanita menjadi IRT tidak perlu mendapatkan pendidikan tinggi? Kembali ke pikiran saya sebelumnya, bagi saya tujuan pendidikan itu untuk melatih pemikiran seseorang. Wanita yang berkerja di ‘dapur’ pun perlu dilatih pemikirannya. Contohnya, dalam manajamen kerumahtanggaan. Jika, alih-alih mengatur rumah tangga dengan baik, menyampaikan pemikirannya dalam suatu keputusan di dalam rumah tangga pun ia tidak bisa, sangat disayangkan.

IRT pada zaman modern ini tidak melulu menjadi seorang penjaga rumah, ‘kan? Mereka bisa berkerja sambilan, berbisnis misalnya, atau menulis buku. Modalnya adalah, lagi-lagi, pendidikan. Setidaknya para wanita harus dibekali keterampilan tertentu supaya tidak hanya bisa memasak, mengasuh anak, membersihkan rumah, namun bisa mandiri dengan penghasilan sendiri. Jadi pendidikan bukan hanya ditujukan untuk wanita yang memilih untuk berkarir, tetapi untuk semua wanita.

Pendidikan atau Menikah?

Nah, masuk ke bahasan inti, ketika wanita memilih untuk mengenyam pendidikan terkadang mereka dihadapkan oleh dua pilihan, lanjut belajar lagi atau menikah dulu? Karena wanita disebut ‘cepat tua’, artinya kalau tidak menikah di usia yang tepat maka akan merugikan dirinya sendiri. Wanita memiliki ‘batas kadaluarsa’ dalam hal reproduksi, lain halnya dengan laki-laki. Maka seringkali wanita dituntut untuk menikah, memiliki anak, baru lanjut pendidikan.

Masalahnya, jika menikah dulu dan punya anak, apakah kita masih bisa fokus dalam mengejar pendidikan? Tidak semua wanita bisa mengatasinya dengan baik. Terkadang kita dihadapkan dengan kondisi harus berpisah dengan keluarga untuk sementara waktu karena kuliah di luar kota padahal ada keluarga yang menunggu kita untuk diurus. Sangat dilematis memang.

Berdasarkan hal tersebut saya berpendapat bahwa pendidikan harus diutamakan sebelum membentuk keluarga. Saya sendiri dengan rencana lulus sarjana dalam waktu 4 tahun, pendidikan profesi selama 1,5 tahun, dan lulus master dalam 3 tahun (karena saya bermimpi untuk melanjutkan S2 di negeri yang butuh waktu setahun untuk belajar bahasanya terlebih dahulu), dengan berat hati memutuskan untuk menikah di atas usia 25 tahun. Tetapi inilah the art of being a woman. Kita harus bisa menentukan apa pilihan kita tanpa membuat orang lain berpandangan buruk terhadap kita.

Jika saya memilih menikah terlebih dahulu, lalu saya memilih melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri, sungguh sulit bagi keluarga saya nanti. Apakah saya sanggup jika ada yang menyebut saya ‘menelantarkan keluarga’? Saya rasa tidak. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mengorbankan usia saya demi pendidikan terlebih dahulu sebelum bertemu dengan mr.right dan membentuk keluarga kami.

“nggak apa-apa disebut ‘ih udah umur segitu baru nikah’ daripada dihujat karena menelantarkan keluarga nanti :P” karena wanita itu berharga, pendidikan itu penting, keluarga tak ternilai harganya.

Yogyakarta, 13 April 2014 4:50 PM

Advertisements

Dear Dave

My dear Dave,

I’ve known you since I was twelve years old. The first moment I saw you were kind of unexpected. It was just another night I spent on watching TV and then you came to sing. Nothing special but I just knew something might happen later.

Dave, what I try to say right now is, I don’t know why, but your songs influence me to hope. Hope for something impossible. I was thirteen years old that time when I heard ‘Crush’. I experienced my very first crush back then and it was similar with ‘Crush’ lyric. I listened to ‘Crush’ everyday, singing a part of it repeatedly,

“Has it ever crossed your mind? When we’re hanging spending time, girl. Are we just friend? Is there more? Is there more?”

I went through, day by day, with a hope inside of me. Someday he will realize, he will realize. Unfortunately, it turned to be nothing. “Am I crazy or falling in love? Is it real or just another crush?” It was not real and just another crush.

When I was down because of broken-heart-things, I listened to ‘A little too not over you’. It just described my feelings in some ways. But, Dave, the thing is someone who broke my heart was not real. I mean, he IS real, but what I thought about him is unreal. I was having illusion, you can call me delusional girl, I had my own imagination then it proved to be unreal and then it just happened, the broken-heart-thing. Maybe I have to revise your title to be ‘A little too not over my own imagination’.

After that, there was a time when I fell in love with a boy, it was real this time. He was sweet and kind, dreamlike type. He was similar with ‘Angel’ in your song.

“Through it all, she offers me protection, lots of love and affection, whether I’m right or wrong”

In love with an ‘Angel’ was amazing after what I’ve been through before. He made me completely in love, but then I realized…. The ‘crush’ and the ‘a little too not over you’ were waiting for me afterward.

After years until now I underwent the same mechanism in my love life. I had ‘crush’ – I broke my heart and I thought I was ‘a little too not over you’ – I met another person, like an ‘angel’ – then back again to the ‘crush’ and so on.

You know, your songs gave me hopes, sometimes made my imagination grew stronger, when it turned down your songs made me think “I’m not over it”, and then it just happened repeatedly.

Dave, don’t be mad, but I think I have to stop. Stop listening to your songs “for purpose”. My hopes grow unsustainably whenever I listen to your songs. I think I should listen to your songs freely without purpose on gaining hopes from now on. Let me stop at ‘A little too not over you’ today, and start over with nothing.

Dave, thank you for your songs. They were sung so beautifully. So beautiful that people can feel the meaning of the song. You have to know, I will grow stronger than ever. I won’t let my imagination rule me. I can stand day by day without hoping.

Sincerely yours,

Your fan girl.