Uncategorized

Atrévete a ser diferente

posting-2

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, alih-alih dibingungkan oleh masalah skripsi, saya malah dibuat pusing oleh pertanyaan “What’s next?” (Iya walaupun skripsi juga bikin saya bingung). Galau, begitulah istilahnya. Tetapi saya lebih suka menyebut diri saya dalam dilema, karena semakin saya mencari jawaban semakin banyak pilihan-pilihan yang dihadapkan kepada saya.

So, what’s next?

Lanjut studi, tentunya. Ini telah masuk ke dalam rancangan hidup saya jauh-jauh hari. Jauh-jauh tahun malah. Tetapi masalahnya mau lanjut studi apa, lewat jalan apa, dimana, kapan, pertanyaan-pertanyaan itu kerap nempel di kepala saya. Makanya, ketika jenuh memikirkan skripsi saya malah suka cari-cari jawaban dari pertanyaan tersebut.

Saya mau lanjut studi di Inggris! Secepatnya!

Itu jawaban yang sangat pasti. Saya sudah punya beberapa pilihan universitas, pilihan jalan beasiswa, hingga pilihan course yang akan saya ambil. Apakah setelah itu pertanyaan sudah terjawab? Eh ternyata belum. Beberapa pilihan itu belum bisa saya tentukan secara teguh-dengan-menyebut-nama-Allah. Jadilah saya terombang-ambing di lautan dilema.

Terlebih lagi dengan keinginan saya yang agak menyimpang dari jalur mainstream, membuat saya susah untuk yakin. Apakah jalan yang akan saya ambil aman? Apakah jalan yang akan saya ambil tersebut dapat mengantarkan saya kepada cita-cita? Apakah jalan yang akan saya ambil cocok untuk saya?

Atrévete a ser diferente

Berhubung saya lagi dalam proses belajar Bahasa Spanyol, maka kalimat untuk judul saya buatkan dalam bahasa telenovela tersebut. Terjemahannya, berani untuk berbeda.

Di tengah-tengah kegalauan ini, saya bertemu teman-teman yang luar biasa. Kami menamai forum ini Kongkow Medika (Mungkin cerita tentang Kongkow Medika akan saya bahas di postingan lain). Singkatnya malam itu kami pergi bersama, menemui seseorang untuk berbincang. Kalo ada yang bilang ngopi-ngudud-ngobrol bareng adalah tradisi Indonesia, kami memilih tradisi berbeda dan mengisi malam itu dengan ngeteh-ngobrol bareng (Berani untuk berbeda lah sesuai judul, lagian saya tidak minum kopi).

Bang Sinyo (Giovanni van Empel), adalah orang yang terpilih menjadi teman kami berbincang. Beliau saat ini sedang menjalankan pendidikan profesi setelah sebelumnya telah menyandang gelar MSc dalam bidang Economic Health dari University of York. Kiprahnya selama dulu menjadi mahasiswa S1, sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Tetapi kalau masih penasaran, di google banyak klu yang bertebaran.

Selama beberapa jam pertemuan ini satu hal yang sangat melekat dalam kepala saya. Saya kian yakin bahwa tidak ada salahnya keluar dari jalur mainstream. Menjadi berbeda.

Pengalaman Bang Sinyo sendiri dimana dulu setelah lulus S1, di saat teman-temannya tanpa ragu melanjutkan pendidikan profesi, beliau memilih untuk menundanya. Bekerja sebentar, lalu mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi ke Inggris. Itu pilihannya. Ketika pertanyaan “apakah ini benar jalan yang terbaik untuk saya?” muncul, ingatlah bahwa pilihan kita jika dilandasi dengan niat lillahita’ala dan keinginan baik akan menjadi sesuatu yang baik juga.

Sebagaimana satu nasihat yang selalu saya ingat, didapatkan dari kutipan sebuah buku.

“Dalam menjalani hidup ini, Nak, adakalanya kau akan sampai di jalan yang bercabang atau bersimpang. Bila demikian, jangan ragu-ragu memilih cabang atau simpang yang kelihatannya kurang atau jarang ditempuh orang.”

“Bagaimana kalau nanti kita tersesat?” tanyaku.

“Kalau kita tersesat bukan berarti kita akan hilang dalam perjalanan”, jawab emak. “Maka jangan ragu-ragu mengambil jalan yang tidak umum. Hasilnya bisa cukup memuaskan … contohnya lihat apa yang kau alami sekarang. Setelah orang-orang melihat hasil ini, lama-lama mereka akan mengikuti langkahmu dan jalan ini lalu menjadi jalan orang banyak. Tapi kau tetap yang memulai, yang merintis. Ini berlaku baik dalam arti harfiah maupun secara kiasan.”
Daoed Joesoef, Emak

Bang Sinyo pun berkata “Jika suatu saat kalian merasa tidak bisa melanjutkan jalan tersebut, tinggal balik, tidak akan ada ruginya”, menurut saya sendiri tentu saja itu dapat dilakukan jika benar-benar jalan tersebut sudah tidak baik bagi kita atau mengancam diri.

Ser tu propio héroe

Adalah membandingkan diri saya dengan orang lain, yang kadang-kadang menjadi sesuatu yang mengguncang hati saya. Kadang saya mencari sosok panutan untuk menguatkan hati dalam menghadapi beberapa masalah, tetapi jarang saya temukan yang benar-benar dapat saya contoh.

Lalu, perbincangan saling bercurah isi hati malam itu menyadarkan saya, jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri. Jika menggantungkan diri kepada orang lain tidak menguatkanmu, mencari sesosok role model tak kunjung temu, maka jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri. Ciptakan dirimu seperti sosok yang ingin kamu jadikan panutan, seandainya itu terjadi maka keteguhan tumbuh dalam setiap langkahmu dan lebih baiknya dapat menginspirasi orang lain.

Cree su pensamiento creativamente

Tepat dua hari sebelum pertemuan di sudut kota malam itu kebetulan sekali saya mendapatkan satu materi dalam acara LKMM Nasional ILMAGI. Di dalam materi ke-3 dengan judul “Rencana Pengembangan Organisasi” yang diberikan oleh Kak Muhyi (Muhyi Nur Fitrahanefi), ada sepotong poin yang menarik perhatian. Bahwa kami diajak untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang kreatif, dari sudut pandang yang lain, dengan menggunakan bagian otak sebelah kanan. Bahwa tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan pemikiran logis. Bahwa terkadang kreativitas perlu diunggulkan dalam mencari solusi. Bagaimana tidak menarik, saat itu kelompok saya diminta untuk memecahkan masalah “Kurangnya Kaderisasi ILMAGI sehingga tidak ada yang mencalonkan diri sebagai Sekjend selanjutnya” dengan prinsip Korek Kuping. Jadilah kami berandai-andai dan menilik dari segala sudut hingga mendapatkan nilai filosofis dari korek kuping untuk memecahkan masalah tersebut (tidak perlu saya jelaskan hasil dari gombalan kelompok saya, karena sangat menggelikan).

Sama seperti materi tersebut, Bang Sinyo juga mengatakan bahwa saat ini kreativitas lebih dibutuhkan dalam pemecahan masalah. Kami pun tanpa ragu mengangguk-angguk sepakat. Lalu apa keunggulan dari Creative Problem Solving (CPS)? Menurut beberapa sumber, CPS ini akan menghasilkan cara memecahkan masalah yang orisinil, baru, dan “tidak biasa”. Sungguh merupakan angin baru yang menjadi hembusan segar bagi Indonesia jika pemuda-pemudinya yang sekarang (dan akan menjadi tombak bangsa kelak) memiliki kreativitas yang bermanfaat bagi negaranya.

gracias, amigos

Terima kasih, teman-teman Kongkow Medika yang sukses merealisasikan Jalan Bermanfaat #1 nya. Semoga dapat berlanjut hingga waktu-waktu selanjutnya.

Advertisements
Standard
Uncategorized

Between Obesity and Modern Lifestyle: Factors and Solutions

Web

By Lala Sri Fadila (Undergraduate Student at School of Health and Nutrition, Universitas Gadjah Mada)

The increasing of average weight of people in some countries is associated with the incidence of obesity (Friedman, 2003). World Health Organization (WHO) defined overweight and obesity as “abnormal or excessive fat accumulation that may impair health”. Obesity can be diagnosed from BMI, someone’s weight in kilograms divided by the square of the height in meters. When the measure of BMI exceeds 25, then it is called overweight. Moreover, if the BMI exceeds 30, people are obese. Therefore, the rising number of overweight and obesity triggered the average weight of people increased.

Obesity and overweight have been major health problems worldwide. Based on data from WHO, since 1980 obesity case increased almost twofold from the previous years. Obesity also has been declared as “the global epidemic” by WHO in 1998 (Caballero, 2007). Statistics from WHO estimated that more than 1.4 billion adults, 20 years old and older, were overweight.

The obese has higher risk to get several chronic diseases, such as type 2 diabetes mellitus and cardiovascular disease (Suastika, 2006). Additionally, because of its close relation with metabolic and cardiovascular disease, obesity and overweight has become leading risks for global deaths (Barness, et al,. 2007). This condition has made obesity as a developing concern worldwide.

Nevertheless, obesity is a preventable disease. Strategies and policies are needed to prevent and overcome obesity. However, before we set the strategies and policies, we need to understand what the determinants for obesity prevalent are.

There are so many factors that can cause obesity. Among them are change of food consumption and change of lifestyle (Roemling and Qaim, 2012). These alterations may happen globally. Modern western lifestyle has a role that influences these changes (Egger and Dixon, 2014). Through globalization, modern western lifestyle entered many countries and then changed people’s behavior. Previously, people were engaged to healthy lifestyle but nowadays they left it to become contemporary society.

Modernization has impact to social, cultural, occupational, environmental and other factors of people’s lifestyle. Based on Egger and Dixon review (2014), the transformation of those factors can affect nutrition, activity, stress level, technology-induced-pathology, and inadequate sleep. It also can influence the relationships and social factors of modern society. Thus, the transformation of lifestyle has bigger effect beyond what we imagine.

Modification of dietary pattern caused the energy intake became higher than the need. The dietary changes included the increase of edible oils and caloric sweeteners using, transition to animal-source food, and decreased consumption of legumes, coarse grains, and other vegetables (Popkin, et al., 2012). Furthermore, a study by Cizza and Rother (2012) suggested that increased intake of fast food and junk food is also contributed to the obesity epidemic.

Fast food and junk food has become popular among modern people. They consume it because of its good taste and it is easy-to-serve. The current society has less time to provide their meals, leading them to consume fast food and junk food. The ingredients have to go through the process, such as deep frying, and added additives into it before become an edible fast food. The food processing of fast food and junk food itself made them to be unhealthy food that contains high calories and rich in fat. Fast food consumption has tight relation with obesity because of its increased calories and fat contents (Anderson, et al., 2011).

Alongside with the consumption of fast food and junk food, the reduced physical activity is considered as the most important factor to obesity (Cizza and Rother, 2012). Poor quality of nutrition made the body get excess energy. The energy should be burned through physical activity. However, if people live a sedentary lifestyle, the energy will remain excess in the body. Weight gain will happen as a result of this condition.

An effective way to prevent obesity means we have to prevent people from live an unhealthy lifestyle. A strategy is needed to avoid people from consume poor nutrition food and reduce their physical activity. The strategy should be focused on environment factors such as social, culture, politics and policy-making which has a big effect to social life. Furthermore, what we have to regard is the strategy must aim at the high risk people.

There are three kinds of prevention: universal prevention, selected prevention, and targeted prevention (WHO, 1998). Universal prevention related to high scale policy that can affect the entire population. It is needed to lower the prevalence and the incidence of obesity entirely. Meanwhile, selected prevention and targeted prevention are addressed to specific people. The targets are people with higher chance to suffer from obesity and also people who already overweight (Suastika, 2006).

Universal prevention can be formed as a policy that regulates fast food price. The government can set the tax through policy in such way hence fast food price will increase. The increasing of fast food price is expected to reduce fast food consumption by people.

The other example is the policy that controls food industry to use any unhealthy materials. The food industry has to reduce sugar, fat and salt usage and consumption in order to produce a healthier food that does not contain high calories and has a slight fat. The food labeling and nutrition fact of food are also needed to give information about the contents of food. This information will guide people to choose their food based on what they need and what is appropriate for them to consume. This policy is expected to guide people to get balance energy and nutrients.

Moreover, the campaigns and education are needed to raising people awareness. This strategy is related to community-based approach. Health promotional campaign should be done to make people aware about healthy food and healthy lifestyle. Awareness is not the only target; community-based action is also can empowering and encouraging society to change their behavior (Krishnan, et.al, 2010)

The proper strategy for the selected and targeted prevention is lifestyle intervention. This action is planned to help individuals to change their daily behavior. This includes giving information to participants about reducing calorie intake and increasing energy expenditure (Suastika, 2006).

To sum up, obesity has been a major health problem and leading death risk worldwide. Obesity occurs because of dietary pattern and lifestyle modification. Thus, to prevent and overcome it, an effective strategy is needed. It can be done through community-based action and individual approach to change people behavior.

References

Anderson, Beth, et al. 2011. Fast-Food Consumption and Obesity Among Michigan Adults. Preventing Chronic Disease: Public Health Research, Practice, and Policy. 2011;8(4):A71

Barness, LA, et al,. 2007. Obesity: Genetic, Molecular, and Enviromental Aspects. Am J Med Genet A. 2007;143A(24):3016-34

Caballero, B. 2007. The Global Epidemic of Obesity: An Overview. Epidemiol Rev. 2007;29:1-5

Cizza,G and Rother, KI. 2012. Beyond Fast Food and Slow Motion: Weighty Contributors to the Obesity Epidemic. J Endocrinol Invest. 2012;35(2):236-242

Egger, Garry and Dixon, John. 2014. Beyond Obesity and Lifestyle: A Review of 21st Century Chronic Disease Determinants. BioMed Research International. 2014:12

Friedman, Jeffrey M. 2003. A War on Obesity, Not the Obese. Science. 2003;299:856

Krishnan, et al,. 2010. Evaluation of Community-based Interventions for Non-communicable Diseases: Experiences from India and Indonesia. Health Promotion International. 2010;26(3):276-289

Popkin, Barry M et al,.2012. Now and Then: The Global Nutrition Transition: The Pandemic of Obesity in Developing Countries. Nutr Rev. 2012;70(1):3-21

Roemling, Cornelia and Qaim, Matin. 2012. Obesity Trends and Determinants in Indonesia. Appetite. 2012;58:1005-1013

Suastika, Ketut. 2006. Update in The Management of Obesity. Acta Med Indonesia-Indonesia J Intern Med. 2006;38(4):231-237

WHO. 1998. Obesity Preventing and Managing the Global Epidemic. Report of a WHO consultation on obesity.

Standard