Potongan Cerita #2

Aku menulis ketika senang. Aku menulis ketika sedih. Aku menulis ketika dikekang amarah. Aku menulis ketika diselimuti rindu. Seperti saat ini.

Rinduku selalu untukmu, priaku. Hah, seenaknya aku menambahkan partikel ku di belakang nomina itu. Padahal kau tak pernah jadi milikku. Sungguh ironi.

Kamu pria yang hebat. Sangat hebat. Satu-satunya pria yang bisa membuatku membayangkan masa depan, bukan hanya membayangkan namun juga membicarakannya selama berjam-jam. Berbagi tentang apa yang ingin kita lakukan di masa depan. Kalau aku bisa memilih, aku ingin kamu ada di masa depanku.

Kamu pemimpi. Kamu tak cepat puas jika satu mimpimu dapat kau raih. Setelah satu mimpi menjadi kenyataan, belasan bahkan puluhan mimpi lainnya bermunculan, mengantre untuk dapat kau wujudkan. Jikalau aku bisa, aku ingin mendampingimu dalam proses itu.

Kamu humoris. Dengan kalimat bernada innocent dan sederhana tanpa ada unsur paksaan, kau membuat orang tertawa. Kau melucu tanpa harus berusaha melucu. Kau, lengkap dengan wajahmu yang datar ,dapat mendatangkan senyuman kecil orang-orang. Buatlah aku tertawa, setiap hari.

Kamu romantis. For heaven’s sake why did I even mention this? Memangnya darimana aku tahu? Ya aku tahu dari caramu memperlakukan wanita-wanitamu dulu. Kau buat mereka seolah-olah mereka adalah wanita paling beruntung di dunia. Karena memilikimu. Kamu memang tak suka mengumbar kemesraan. Hanya dengan a little gesture and your little smart talk, wanitamu bisa merasa terbang di langit cerah berpelangi diiringi orkestra bernada ceria dengan ketukan yang cepat, secepat denyut jantungnya. Merasakannya? Aku harap aku bisa.

Kamu cerdas. Bagimu tak perlulah menjadi sang penakluk dunia. Asalkan menjadi musafir yang haus akan ilmu pengetahuan, mengembara menghapuskan ketidaktahuan, kau puas. Aku suka.

Sayangnya ini hanyalah sepotong tulisan dan setitik khayalan. Kau hanya hadir di mimpiku tanpa bisa kuwujudkan, priaku.

Kembali

Jika gelapnya malam tak bisa menyembunyikan.
Terangnya pagi tak bisa menjelaskan.
Tak perlu kemana-mana kau mencari perlindungan.
Sejauh mana kau pergi, kembali.
Sedekat itulah Dia menghadiri.

Resahnya hati tak perlu kau sampaikan.
Lukanya jiwa tak perlu kau umumkan.
Dalam diam Dia telah menjawab.
Kembalilah padaNya.
Maka Dia bantu enyahkan.

Yogyakarta, 8 Desember 2015