Aku dan Waktu

Jika kuberharap waktu akan menjawab,
sepertinya ia akan berteriak
“Salah siapa, datang kok terlambat!”
Lalu barulah aku tahu,
waktu tak akan berpihak kepadaku. Maka, maafkanlah aku yang terlambat hadir di hidupmu.

Surat untuk Hujan #2

Merah. Warna api yang membara. Warna darah yang mengalir di setiap arteri kita. Warna bunga mawar yang tumbuh dengan indah. Warna yang dapat menarik perhatian.

Selamat malam Hujan, aku kembali menulis surat untukmu. Izinkan aku bercerita lagi tentang Pelangi. Luangkan sedikit waktumu. Kau sungguh-sungguh akan rela membacanya ‘kan?

Hujan, apakah kau tahu warna apa yang pertama kulihat dari Pelangi? Merah. Warna api yang membara. Warna darah yang mengalir di setiap arteri kita. Warna bunga mawar yang tumbuh dengan indah. Warna yang dapat menarik perhatian. Termasuk perhatianku.

Aku kagum, Hujan. Semangat begitu tergambarkan di setiap tindakannya. Dia selalu berjuang, memperjuangkan cita-cita dan tujuannya. Kekuatan dan motivasi itu terlihat jelas pada dirinya membuat semua orang ikut merasakannya.

Hujan, mungkinkah dia api yang selama ini aku tunggu? Yang dapat menghangatkan ketika aku kedinginan. Apakah dia darah yang selama ini aku butuhkan? Yang dapat mengaliri pembuluh semangatku yang mulai mengering. Atau diakah mawar merah yang selama ini aku dambakan? Yang dapat membuat indah perkarangan hati ini yang hanya dipenuhi guguran daun.

Namun, Hujan, sebelum semua pertanyaanku itu terjawab, sayangnya merah Pelangi mulai memudar. Semangat, perjuangan, kekuatan, dan motivasi itu perlahan-lahan hilang. Alasan kekagumanku kepadanya itu menjadi tertutupi awan kekecewaan. Lalu, apakah karena hal ini aku menghilangkan kekagumanku? Tidak, Hujan. Aku akan selalu mengingat merah yang membara waktu itu. Lebih dari itu semua, aku ingin mengembalikan merah itu lagi di dirinya. Hujan, apakah aku mampu?

Aku ingin jadi api itu. Aku ingin jadi darah itu. Aku ingin jadi mawar itu. Aku ingin jadi alasan kembalinya warna merah itu di pancaran jiwanya.

Hujan, kau tahu aku orang yang pesimistik, tapi biarkan aku mencoba satu kali ini. Kau boleh tertawa jika ternyata aku gagal, tetapi jangan kecewa jika aku berhasil 🙂

Doakan aku, Hujan.

Yogyakarta, 3 Oktober 2015