Death with Dignity

Assisted suicide. Bukan lagi sebatas euthanasia tapi sudah berbicara tentang hak asasi manusia tentang setiap orang berhak memilih atas apapun tentang hidupnya (mungkin termasuk matinya). Terdengar “aneh” bagi kita namun di beberapa belahan dunia telah diizinkan (dengan syarat tertentu) dan tentu saja hal ini menjadi bahan perdebatan dalam dunia medis, hukum, maupun agama. (Namun dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang agama, karena tentu saja agama manapun terutama Islam melarang bunuh diri, nyawa atau mati sudah menjadi keputusan Allah SWT)
Vincent Humbert, seorang pemadam kebakaran dari Prancis, merupakan seorang lelaki muda yang hebat, sehat, tangguh, gagah, sesuai dengan pekerjaannya. Siapa yang menyangka ia kehilangan segalanya setelah mengalami satu kecelakaan. Kecelakaan mobil itu membuat ia koma dan terbangun satu tahun kemudian hanya untuk menyadari bahwa ia telah kehilangan kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuhnya, melihat, mendengar, mencium, dan merasakan, dalam artian lain ia tidak bisa apa-apa. Depresi, itulah yang dirasakan Vincent. Kalaupun dia hidup sampai sekarang, tidak ada apapun keuntungan baginya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan jalan assisted suicide atau euthanasia. Baginya lebih baik ia mati dengan keadaan tenang, gembira, tanpa keraguan dan penyesalan daripada tetap hidup tanpa bisa melakukan apapun. Keputusan Vincent tidak dapat dijalankan karena di Prancis assisted suicide adalah hal yang ilegal. Vincent bersama ibunya, Marie, membuat 3 rencana. Rencana A, Vincent menulis surat kepada presiden Chirac untuk mengizinkannya melakukan assisted suicide. Vincent menulis surat itu sendiri, dibantu oleh ibu dan seorang jurnalis (yang juga membantu menulis bukunya) dengan cara menggerakkan ibu jarinya (satu-satunya bagian tubuh yang bisa ia gerakkan) di tangan jurnalis itu lalu kata-katanya dituliskan kembali. Marie sempat mendatangi istana Elysee dan hadir di beberapa stasiun televisi untuk menjelaskan keinginan anaknya, tetapi hasilnya nihil. Vincent tetap tidak diizinkan untuk ‘bunuh diri’. Rencana B adalah Vincent ingin dibawa ke negara yang melegalkan assisted suicide, rencana ini sendiri terdengar tidak feasible sehingga tidak dilakukan. Akhirnya sampailah kepada pilihan terakhir, rencana C. Dr. Chaussoy, dokter klinik dimana Vincent dirawat, melepaskan alat bantu pernapasannya. Sedangkan Marie, ibu Vincent sendiri, setelah mengumumkan kepada media massa bahwa ia sendirilah yang akan melakukan assisted suicide kepada anaknya, menyuntikkan barbiturat ke tubuh Vincent hingga over dosis dan meninggal seperti keinginannya.

“I want them to accept my departure as a very simple thing, very natural,” tulis Vincent di pesan terakhirnya.

Sehari kemudian, Marie ditangkap dan ditahan. Memunculkan dilema dan perdebatan di kalangan politik dan masyarakat Prancis, akankah assisted suicide tetap diilegalkan setelah kasus ini?
Itu terjadi pada 2003. Lalu, sebelas tahun kemudian. Brittany Maynard, 29 tahun wanita asal Amerika Serikat didiagnosis menderita kanker otak. Sel kanker secara aktif menggrogoti otaknya sehingga ia seringkali merasakan sakit di kepala yang luar biasa. Padahal Brittany adalah seorang guru, lulusan University of Columbia yang telah menyelesaikan gelar masternya, dan baru saja menikah satu tahun sebelum ia didiagnosis menderita kanker dan dikatakan hidupnya tinggal 6 bulan. She’s smart, she has a great job, she likes to travel, baru saja membangun keluarga walaupun belum dikaruniai anak. Lalu kanker datang menghancurkan dunianya. Dia sudah menjalani operasi selama dua kali, radioterapi rutin, namun penyakitnya terlihat tidak bisa disembuhkan. Sama seperti Vincent, Brittany depresi. Merasa sakit yang tak kunjung berhenti di tiap hari yang ia jalani. Sama seperti Vincent, Brittany memutuskan untuk ‘death with dignity’, meninggal atas pilihannya sendiri. Dia dan suaminya rela bersusah payah untuk pindah dan menjadi warga Oregon, satu-satunya negara bagian di AS yang mengizinkan assisted suicide. Beberapa syarat untuk assisted suicide dipenuhi oleh Brittany dan ia diizinkan. Brittany membuat beberapa daftar yang ingin ia lakukan sebelum ia meninggal, daftar yang terakhir adalah mengunjungi Grand Canyon bersama keluarganya. Kemarin, Brittany memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, di atas tempat tidur di kamarnya ditemani orang-orang dicintainya. She has a wonderful life but cancer broke it and now she’s dead with a happy heart.
Kasus Brittany juga memunculkan berbagai argumen dari berbagai pihak. Sama dengan Vincent, Brittany memutuskan untuk ‘mati’ karena merasa tak ada gunanya hidup lagi. Mungkin alasan mereka terdengar irasional. Alasan yang dibuat orang yang sedang sakit dan menderita memang akan selalu irasional. Namun apakah salah jika mereka menginginkan untuk mati atas pilihan mereka sendiri? Jika HAM mengizinkan seseorang untuk membuat pilihan atas hidupnya, apakah HAM juga mengizinkan seseorang untuk membuat pilihan atas matinya?

Sila baca:
A letter from Brittany Maynard http://edition.cnn.com/2014/10/07/opinion/maynard-assisted-suicide-cancer-dignity/
A video from Brittany Maynard
Argument arises after the death of Vincent Humbert http://www.theguardian.com/world/2003/oct/27/health.france

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s